Aku disini, masih disini..
dengan membawa harapan semua akan terlewati
dengan doa bahwa semua akan baik-baik saja
seperti sediakala
namun waktu tak mengizinkan
untuk kita kembali seperti dulu
setidaknya saling meng'iya' dan mengeja kata
entah itu egomu
atau aku yang terlalu perasa
masih saja kau seperti raja
menatap tajam dengan nada keras
tak ada norma lagi diantara kita
tak ada lagi tali di jemari kita
apalagi batin
kita seperti musafir yang hanya sekedar berpapasan
tanpa mau mengenal
tanpa mau tersenyum
apalagi menyapa
menoleh pun tak mungkin
terlalu lama kita memendam
hingga lumut telah menjadi batu
dan kitapun begitu
aku pernah mencoba menanti
berharap
dan merangkai hati untukmu
hati yang dengan mudah kau hempaskan
dengan usia muda egomu
sudahlah
memang kita tak sama
dari
aku yang terlalu kecewa
hanya insan biasa istri dari Ozi Agustra Ummi dari Alfatih El Adzra hanya ingin berbagi rasa, untuk lebih kuat di dunia ini.... menemani adzra hingga masanya nanti diary manusia kosong berjejak
Sabtu, 27 April 2019
Senin, 04 Februari 2019
Dear Adikku
dear adikku.
aku hanya ingin kamu tahu..
aku sangat menyayangimu..
aku tetap seorang kakak yang tidak ingin siapapun melukaimu
aku tetap seorang kakak yang ingin melihatmu bahagia
dear adikku..
doaku untukmu, entah kapan akan dapat dipahami olehmu
aku mungkin yang terlalu kuat, atau bahkan terlalu lemah di hadapanmu..
semuanya menjadi abu-abu..
semuanya menjadi sendu
ketika kamu tak bisa berbicara pelan untukku
tahukah kamu,
betapa sakitnya aku ketika kamu membentakku?
tahukah kamu,
kecewanya aku ketika aku ingin ada seseorang yang memahamiku, tapi kamu berada di posisi yang bersebrangan denganku?
tahukah kamu
betapa hinanya aku, ketika kamu menghardikku di depan semua orang bahkan suamiku,
tahukah kamu
betapa malunya aku ketika kamu bahkan tak bisa bercanda denganku
tahukah kamu
betapa marahnya aku, ketika kamu tak bisa sopan dengan suamiku
dear adikku
katakanlah kesalahanku
hingga kamu tak bisa melihatku sebagai sosok kakakmu
dear adikku
apakah kamu tahu, rasa marah, kecewa, dan sedih ini telah menjadi satu hingga aku ingin memutuskan berhenti mengenalmu. aku ingin berlari dari hadapanmu, agar kamu lebih mengerti arti hadirku. agar kamu mengerti arti sebuah keluarga. arti sebuah kemandirian.
tapi aku tak sanggup, karena aku tahu ini akan menyakitkan untuk ayah dan ibu. menyaksikan anak-anaknya saling menjauh...menyaksikan anaknya pisah dan bersebrangan, tentu sangat menyakitkan untuk orangtua manapun. sementara aku disini, di usiaku 25 tahun ini.. aku berhenti, aku menyerah untuk memahamimu adikku... aku terlalu lelah dengan semua ketidaksopananmu terhadapku..
katakan adikku, apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku ubah terhadapmu?
apakah aku pernah memukulmu adikku?
atau apakah aku selalu menyakitimu?
apakah aku selalu membentakmu?
katakan adikku
apakah yang kamu mau, aku tak lagi mempedulikanmu?
tahukah engkau adikku, rasa maluku di hadapan suamiku...
suamiku bahkan mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar. Tapi bagaimanapun, seorang suami takkan membiarkan istrinya dihina, dibentak, bahkan oleh adikknya sendiri.
tak malukah engkau terhadap suamiku, adikku?
sampai kapan engkau tunjukkan ketidaksopananmu terhadapku
mungkin, terlalu banyak budi pekerti
yang tak kau pahami sedari kecil
dear adikku, ketika kau membaca ini
hatiku telah hancur olehmu
maafkan aku
jika aku tak bisa bertahan denganmu
salam
kakakmu
Yogyakarta-2019
aku hanya ingin kamu tahu..
aku sangat menyayangimu..
aku tetap seorang kakak yang tidak ingin siapapun melukaimu
aku tetap seorang kakak yang ingin melihatmu bahagia
dear adikku..
doaku untukmu, entah kapan akan dapat dipahami olehmu
aku mungkin yang terlalu kuat, atau bahkan terlalu lemah di hadapanmu..
semuanya menjadi abu-abu..
semuanya menjadi sendu
ketika kamu tak bisa berbicara pelan untukku
tahukah kamu,
betapa sakitnya aku ketika kamu membentakku?
tahukah kamu,
kecewanya aku ketika aku ingin ada seseorang yang memahamiku, tapi kamu berada di posisi yang bersebrangan denganku?
tahukah kamu
betapa hinanya aku, ketika kamu menghardikku di depan semua orang bahkan suamiku,
tahukah kamu
betapa malunya aku ketika kamu bahkan tak bisa bercanda denganku
tahukah kamu
betapa marahnya aku, ketika kamu tak bisa sopan dengan suamiku
dear adikku
katakanlah kesalahanku
hingga kamu tak bisa melihatku sebagai sosok kakakmu
dear adikku
apakah kamu tahu, rasa marah, kecewa, dan sedih ini telah menjadi satu hingga aku ingin memutuskan berhenti mengenalmu. aku ingin berlari dari hadapanmu, agar kamu lebih mengerti arti hadirku. agar kamu mengerti arti sebuah keluarga. arti sebuah kemandirian.
tapi aku tak sanggup, karena aku tahu ini akan menyakitkan untuk ayah dan ibu. menyaksikan anak-anaknya saling menjauh...menyaksikan anaknya pisah dan bersebrangan, tentu sangat menyakitkan untuk orangtua manapun. sementara aku disini, di usiaku 25 tahun ini.. aku berhenti, aku menyerah untuk memahamimu adikku... aku terlalu lelah dengan semua ketidaksopananmu terhadapku..
katakan adikku, apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku ubah terhadapmu?
apakah aku pernah memukulmu adikku?
atau apakah aku selalu menyakitimu?
apakah aku selalu membentakmu?
katakan adikku
apakah yang kamu mau, aku tak lagi mempedulikanmu?
tahukah engkau adikku, rasa maluku di hadapan suamiku...
suamiku bahkan mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar. Tapi bagaimanapun, seorang suami takkan membiarkan istrinya dihina, dibentak, bahkan oleh adikknya sendiri.
tak malukah engkau terhadap suamiku, adikku?
sampai kapan engkau tunjukkan ketidaksopananmu terhadapku
mungkin, terlalu banyak budi pekerti
yang tak kau pahami sedari kecil
dear adikku, ketika kau membaca ini
hatiku telah hancur olehmu
maafkan aku
jika aku tak bisa bertahan denganmu
salam
kakakmu
Yogyakarta-2019
SAUDARI
dear sayang,
sesak rasanya hati ini..
begitu menggumpal hingga mampu membekukan darah di setiap helan nafas ini. Aku nestapa sekarang. Kemana aku akan berlari? kemana aku akan mencari? kemana aku dapat menangis. Aku terhenti di sudut kota ini. terlalu resah hati ini. terlalu sesak. diamku bagaikan kepingan darah yang tersumbat di peredaran. menyakitkan.
apa salah dan dosaku sebagai seorang kakak? apakah aku yang tak bisa sempurna memahami arti sebuah kakak. apakah aku yang terlalu berdosa untuk dirinya?
ingin rasanya berlari. ingin rasanya mengakhiri semua ini. aku yang tak bisa, tak becus menjadi kakak yang baik, atau dia yang terlalu mengharap aku menjadi bidadari?
aku tak ubahnya seonggok sampah di hadapannya. pandangan mata dan suara yang mengiris jiwaku hingga terlalu dalam.
berdosakah aku jika aku ingin berlari?
aku yang pernah menghirup rahim yang sama dengannya, dan sekarang
aku tak sanggup menghirup nafas dari ruangan yang sama..
salahkah jika aku hanya meminta sebuah penghormatan darinya?
apakah dimatanya tak pernah ada sosok aku sebagai kakaknya?
apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku pahami?
ini semua rasanya terlalu berlebihan
jiwaku serasa mati
namun untuk berbicara semua ini, aku merasa tak berani.
takut, pandangan kecewa dan terlukanya sayap bidadariku.
mereka terlalu lelah berkorban. bagaimana aku akan menceritakan kepada mereka, bahwa anak mereka tak bisa bersama?
bagaimana aku dapat mengungkapkan, bahwa anak mereka tak bisa saling menjaga?
menyaksikan mereka akan menangis
merasakan sesak dada mereka
aah, tanpa aku ceritakan.. aku sudah tau apa yang akan mereka rasakan
aku lelah
aku kurang apa
aku harus bagaimana
aku terlalu lemah olehnya
sampai kapan aku harus berada di titik ini
dapatkah dia mengerti, bagaimana hati ini
dapatkah dia memahami bagaimana posisi ini
dapatkan dia sedikit saja bersikap sopan dan santun pada diri ini
dapatkah dia rasakan artu dari saudari
Yogyakarta
04-02-2019
sesak rasanya hati ini..
begitu menggumpal hingga mampu membekukan darah di setiap helan nafas ini. Aku nestapa sekarang. Kemana aku akan berlari? kemana aku akan mencari? kemana aku dapat menangis. Aku terhenti di sudut kota ini. terlalu resah hati ini. terlalu sesak. diamku bagaikan kepingan darah yang tersumbat di peredaran. menyakitkan.
apa salah dan dosaku sebagai seorang kakak? apakah aku yang tak bisa sempurna memahami arti sebuah kakak. apakah aku yang terlalu berdosa untuk dirinya?
ingin rasanya berlari. ingin rasanya mengakhiri semua ini. aku yang tak bisa, tak becus menjadi kakak yang baik, atau dia yang terlalu mengharap aku menjadi bidadari?
aku tak ubahnya seonggok sampah di hadapannya. pandangan mata dan suara yang mengiris jiwaku hingga terlalu dalam.
berdosakah aku jika aku ingin berlari?
aku yang pernah menghirup rahim yang sama dengannya, dan sekarang
aku tak sanggup menghirup nafas dari ruangan yang sama..
salahkah jika aku hanya meminta sebuah penghormatan darinya?
apakah dimatanya tak pernah ada sosok aku sebagai kakaknya?
apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku pahami?
ini semua rasanya terlalu berlebihan
jiwaku serasa mati
namun untuk berbicara semua ini, aku merasa tak berani.
takut, pandangan kecewa dan terlukanya sayap bidadariku.
mereka terlalu lelah berkorban. bagaimana aku akan menceritakan kepada mereka, bahwa anak mereka tak bisa bersama?
bagaimana aku dapat mengungkapkan, bahwa anak mereka tak bisa saling menjaga?
menyaksikan mereka akan menangis
merasakan sesak dada mereka
aah, tanpa aku ceritakan.. aku sudah tau apa yang akan mereka rasakan
aku lelah
aku kurang apa
aku harus bagaimana
aku terlalu lemah olehnya
sampai kapan aku harus berada di titik ini
dapatkah dia mengerti, bagaimana hati ini
dapatkah dia memahami bagaimana posisi ini
dapatkan dia sedikit saja bersikap sopan dan santun pada diri ini
dapatkah dia rasakan artu dari saudari
Yogyakarta
04-02-2019
Rabu, 09 Januari 2019
Rasa Ini
Telah berpeluh tubuh dan pikiran ini,
kerontang jiwa di dalam hati.
entah apa yang aku cari,
entah apa yang aku nanti,
hanya terasa letih disini.
dibalik seonggok daging yang mulai mengembang tanpa permisi
berpacu kencang detak nafas dalam rintihan.
tersengal-sengal mulai mencari, apa yang diinginkan tubuh ini?
apa makna pikiran ini?
kosong
sunyi
sepi
hampa
bagaimana ini semua terjadi?
apa yang kurang dalam raga ini?
imankah?
cintakah?
uangkah?
semua bercampur baur menggeluti remahan kulit yang menghitam
mengundang bintik merah kecil di sekujur pori-pori.
semakin terlihat buruklah tampilan diri.
luar dalam terlihat menciut di bola mataku
mereka bilang terlihat biasa saja
tapi aku nestapa
entah kenapa jiwa ini berkelana
entah kenapa pikiran ini membuana
aku saja masih sibuk mengeja
ada apa dengan diri ini
kerontang jiwa di dalam hati.
entah apa yang aku cari,
entah apa yang aku nanti,
hanya terasa letih disini.
dibalik seonggok daging yang mulai mengembang tanpa permisi
berpacu kencang detak nafas dalam rintihan.
tersengal-sengal mulai mencari, apa yang diinginkan tubuh ini?
apa makna pikiran ini?
kosong
sunyi
sepi
hampa
bagaimana ini semua terjadi?
apa yang kurang dalam raga ini?
imankah?
cintakah?
uangkah?
semua bercampur baur menggeluti remahan kulit yang menghitam
mengundang bintik merah kecil di sekujur pori-pori.
semakin terlihat buruklah tampilan diri.
luar dalam terlihat menciut di bola mataku
mereka bilang terlihat biasa saja
tapi aku nestapa
entah kenapa jiwa ini berkelana
entah kenapa pikiran ini membuana
aku saja masih sibuk mengeja
ada apa dengan diri ini
Senin, 09 April 2018
self Reminder
beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan teman-teman semasa sekolah.
apa yang kurasakan? bersyukur, bahagia, senang, malu, rendah diri, bersalah, iri, semua memucak menjadi satu. setelah semua yang terjadi, diri ini ingin menjadi lebih baik lagi dan lagi. mereka semua berkembang menjadi pribadi yang baik dan menawan, menjadi sosok manusia yang bersahaja dan beradab hingga terkadang membuat saya untuk sering berkaca. sebegitu pesatnya mereka tumbuh hingga menumbuhkan rasa iri di hati, kapan bisa seperti mereka.
yah, sosok mereka yang menjelma menjadi manusia yang lebih baik lagi, seakan menampar bahwa diri ini tiada arti. mengingatkan untuk tidak lupa diri karena di atas langis selalu ada langit.
pola pikir mereka yang tinggi dan melampaui arti, memecahkan tinggi hati ini dan lagi saya memeluk diri.
aah sejujurnya sudah sedari dulu diri ini mengagumi mereka, dengan kepintaran mereka, keuletan dan kesopanan mereka. dan sekarang mereka kembali dengan membuat terpana diri ini. bukan lagi dengan kepintaran mereka, tapi pribadi yang kian membuatku mengiri.
pola pikir mereka jauh berbeda, tidak lagi berkisar materi namun sudah menanjak ke jati diri. sementara diri ini? OMG, jauuuh sekali di telapak kaki masih mencari materi. bukannya membela diri, namun ntah kenapa di telapak kaki ini yang tertera adalah deretan materi yang harus kuhadiahi.
terkadang diri ini berpikir untuk berhenti mencari materi dan mulailah mencari jati diri, namun langkahku terhenti karena materi memang belum tercukupi. masih ada mamak dan ayah di sana yang lelah mengais rezeki, masih ada keluarga yang kusulitkan untuk sesuap nasi. masih banyak keluarga yang harus kuhidupi dan kubayar kembali. masih... masih banyak yang harus kubahagiakan di hidup ini dengan materi., dan untuk itu aku belum bisa beranjak penuh dari materi.
berlebihan, menjadi kekanakan dan memaksakan, menjadi egois dan tak berarti sepertinya melekat erat di diri ini, membangun suatu ego yang tak terpatahkan, lalu kemudian menyuruhku bertekuk malu dengan penyesalan.
aah diriku. berhentilah seperti itu,....
jangan buat aku malu menjadi tuanmu
jika tak bisa beranjak dari materi, ayo matangkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, untuk berpikiran lebih luas lagi, untuk mencari pengalaman tanpa henti, untuk lebih bearti dan bermanfaat untuk sekitar diri ini, seperti mereka dan lebih dari mereka, pliss diriku, jangan sekadar mengiri tanpa arti.
Yogyakarta, April 2018
jAwA Yogya eps2
yups, kembali lagi dan lagi masih tentang saya yang berada di pulau jawa. hehehe . . .
entah karena saya wanita introvert yang tidak menyenangi huru-hara ataupun karena saya si gadis rumahan yang lebih senang bersenda gurau bersama orang rumah (semua orang yang dirumah loh yah ^,^), saya lebih banyak menghabiskan waktu di jawa dengan memikikan orang-orang yang tak disamping saya sekarang. menyedihkan ya? ya, saya tau, bagi sebagian manusia akan tampak menyedihkan ketika ada sosok manusialain yang tak mampu menikmati keadaan di sekitarnya..heheh dan saya sepertinya masuk ke bagian sosok manusia lain yang dianggap menyedihkan,.wuakakkakak, but its oke, saya lebih senang dengan pribadi saya yang sibuk dengan kasih sayang saya sendiri, karena ini semua mengajarkan saya untuk mengerti betapa berartinya "mereka" dalam hidup saya.
yogyakarta, berbicara tentang yogya seperti berbicara ruang hampa bagi saya gadis perantau manjah cetar membahana. ketika setiap orang berbicara bahwa yogya adalah tempat dengan harga murah meriah bin terjangkau, saya terdampar di daerah yogya dengan daerah yang katanya terkenal elit dengan kemahalannya dari dahulu kala. maybe yess buat kontrakan, sewa rumah, kos-kosan di daerah saya memang terkenal mahal jika dibandingkan dengan daerah lainnya, tapi makanan? sama ajaa saya rasa..
jika dahulu di sumatera saya di sibukkan dengan perasaan sakit dan sedih jauh dari keluarga tercinta yang selalu memberikan omelan pengisi hari ceria, disini di yogyakarta saya disibukkan dengan perasaaan yang sama namun bertambah. yah bertambah, beban karena jarak yang terlalu jauh, ongkos yang berat dan kos-kosan dengan peralatan seadanyaa. benar-benar memulai dari 0 besar. jangankan mau kasur, kulkas ataupun lemari,. gayung mandi dan sapupun bener-bener harus beli dulu. oooooh . >,< i miis palembang, meskipun sakit, tapi setidaknya itu rumah sendiri dengan kompor kulkas dan kasur hangatku, meskipun perasaan tidak hangat namun setidaknya badanku tetap hangat.
kemudian, jeng jeng jeng, sebagai seorang mahasiswi perantau dengan status istri orang dan jarak yang terpisah jauh, yogya terasa mencengkam urat nadi dengan erat. mungkin ini menjadi salah satu faktor penambah kenapa saya tidak bisa menikmati jogja. hehehe, >,<.
banyak hal di yogya yang bisa saya dapatkan, dibalik semua kelebihan dan kekurangannya, Yogya mengajarkan aku untuk kembali bersyukur.
akhir kata, indah atau tidaknya suatu tempat itu kembali pada pribadi dan kebutuhan masing-masing.
maafkan saya jogja karena bagiku, kamu indah untuk sesaat namun tidak selamanya.
coretan penghilang lelah
Yogyakarta, April 2018
Rabu, 14 Maret 2018
aKU TERDAMPAR DI PULAU JAWA- EPS 1
pada awalnya kupikir bahwa sumatera selatan sangat menyiksaku. terlalu banyak hal yang terjadi di kota itu, kesepian dan keluarga. ku pikir itu adalah kondisi terburukku. namun aku salah. selepas pergi dari provinsi itu, aku terpaksa melanjutkan jalan hidupku di pulau jawa. hal yang kuinginkan jauh sebelum menjejakkan rantauan di sumatera. ya, aku pernah berkeinginan kuliah di yogyakarta, kota pelajar yang terkenal dengan gajah mada-nya. kondisiku kali ini memaksaku untuk melanjutkan studiku yang berada di pertengahan.
bagiku, makhluk introvert dan teraneh di planet ini, yogyakarta ataupun pulau jawa adalah tempat yang menyenangkan untuk berlibur. sebulan, dua atau tiga bulan mungkin cukup untuk membuatku lelah dan ingin pulang. yogyakarta dan pulau jawa menyadarkanku, apa yang aku inginkan belum tentu baik untukku. dan beruntunglah aku yang patuh pada nasehat orangtuaku untuk meneruskan kuliah pertamaku di palembang, bukan di yogyakarta. Allah memberikanku orangtua yang sangat mengenal baik pribadiku. hehehe.
tiga bulan pertama di tanah jawa, aku merasa cukup dan lelah. mulai merasakan harga tiket yang terlalu membumbung tinggi. harga yang sangat mahal untuk bertemu dengan sebuah keluarga. dilanjutkan dengan perjalanan yang sangat jauh dan memutar. untuk wanita malas sepertiku, ini sangat menyusahkan. dan aku mulai berandai.. seandainya palembang memiliki magister profesi psikologi. aku pasti memilih kota itu, tidak yang lain.
sebagai sosok wanita yang hobi berbelanja, yogyakarta tidak menawarkan kemudahan untukku. beberapa tempat terpisah secara jauh dengan harga tak jauh berbeda dengan palembang. plus jalanan yogyakarta yang terasa lebih panjang dari palembang. entah memang karena aku makhluk teririt di dunia atau memang karena aku tumbuh berkembang menjadi makhluk yang lebih pemalas lagi dari sebelumnya, aku hanya menemukan sedikit tempat-tempat menarik untuk berbelanja. untuk masalah barang kurasa sama saja dengan palembang.
yah, setiap kota memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri. dan tentunya setiap manusianya memiliki persepsi sendiri. kurasa, aku telah "lumayan" menjelajah tempat-tempat belanja yang kata mereka "murah di yogyakarta" namun terlihat sama saja bagiku...hehehe, jiwa pelitku terlalu mendewa, sehingga semuanya masih terlihat mahal, tidak semurah tanah abang..>,<.. (maafkan)
yogyakarta sendiri bagiku memiliki keunggulan di makanan yang sangat murah terutama untuk chickennya, hehehe. disini, dengan uang Rp. 10.000 maka tersajilah dengan hangat nasi ayam chicken ( yang dada pula ) + es teh manis ini bisa anda dapatkan di ol*ve >,<. harga yang sangat fantastis. dan hampir seluruh warmindo, burjo, warung ayam geprek dan warung padang sebagainya menyediakan harga berkisar tersebut.. untuk seorang penggemar ayam + mahasiswa rantauan sepertiku, ini seperti surga. hahahhaa
poin kedua yang saya senangi dari sisi kepelitanku, adalah tarif parkir yang hanya 1000,, untuk beberapa tempat elit terkadang 2000 >,< dan tidak semua tempat harus bayar parkir. yah, jika kubandingkan dengan palembang, yang setiap tempat harus parkir dan bayaran minimal 2000 -.-"
poin ke empat, eh ketiga, lagi-lagi dan lagi dari sisi ekonomi yang berlatarbelakang kepelitan, hampir semua warung dan cafe disini menyediakan wifi. Hal yang sangat sulit ditemukan di palembang. disetiap warung makan kecil disinipun hampir semuanya menyediakan wifi gratis. bisa makan sambil wifiaaaan yeaay >,<
poin keempatnya, apa yah,... emmmh untuk beberapa wisata disini masih terhitung murah dan banyak bonus alam dsini..
kalau yang lainnya, yaah.. memang tipe gadis introvert sepertiku kurang menyukai kesana-kemari dan sering merasa tersiksa jauh dari keluarga seperti ini. biasanya jika ada libur 2 hari saja, cusss dari sumatera selatan pulang naik feri ke bangka, dengan ongkos 200 ribu pulang pergi... sekarang? libur satu minggu aja, mau cuss? tiket paling murah 500ribu bo' sekali pergi. jadilah hanya meringkuk di sudut pojokan membayangkan keluarga dan makanan bangka.
dan dan dan dan masih banyak hal lain yang membuatku merasa tersiksa disini... T.T
yah, kali ini dengan kehematanku yang tiada tandingannya, aku haruss cuss menyudahi tulisan kali ini. mengandalkan wifi cafe juga harus ada batasnya kan. wkwkwkwk
see u again dear.
Langganan:
Postingan (Atom)