Laman

clock

Senin, 09 April 2018

jAwA Yogya eps2

yups, kembali lagi dan lagi masih tentang saya yang berada di pulau jawa. hehehe . . . 
entah karena saya wanita introvert yang tidak menyenangi huru-hara ataupun karena saya si gadis rumahan yang lebih senang bersenda gurau bersama orang rumah (semua orang yang dirumah loh yah ^,^), saya lebih banyak menghabiskan waktu di jawa dengan memikikan orang-orang yang tak disamping saya sekarang. menyedihkan ya? ya, saya tau, bagi sebagian manusia akan tampak menyedihkan ketika ada sosok manusialain yang tak mampu menikmati keadaan di sekitarnya..heheh dan saya sepertinya masuk ke bagian sosok manusia lain yang dianggap menyedihkan,.wuakakkakak, but its oke, saya lebih senang dengan pribadi saya yang sibuk dengan kasih sayang saya sendiri, karena ini semua mengajarkan saya untuk mengerti betapa berartinya "mereka" dalam hidup saya. 

yogyakarta, berbicara tentang yogya seperti berbicara ruang hampa bagi saya gadis perantau manjah cetar membahana. ketika setiap orang berbicara bahwa yogya adalah tempat dengan harga murah meriah bin terjangkau, saya terdampar di daerah yogya dengan daerah yang katanya terkenal elit dengan kemahalannya dari dahulu kala. maybe yess buat kontrakan, sewa rumah, kos-kosan di daerah saya memang terkenal mahal jika dibandingkan dengan daerah lainnya, tapi makanan? sama ajaa saya rasa.. 
jika dahulu di sumatera saya di sibukkan dengan perasaan sakit dan sedih jauh dari keluarga tercinta yang selalu memberikan omelan pengisi hari ceria, disini di yogyakarta saya disibukkan dengan perasaaan yang sama namun bertambah. yah bertambah, beban karena jarak yang terlalu jauh, ongkos yang berat dan kos-kosan dengan peralatan seadanyaa. benar-benar memulai dari 0 besar. jangankan mau kasur, kulkas ataupun lemari,. gayung mandi dan sapupun bener-bener harus beli dulu. oooooh . >,< i miis palembang, meskipun sakit, tapi setidaknya itu rumah sendiri dengan kompor kulkas dan kasur hangatku, meskipun perasaan tidak hangat namun setidaknya badanku tetap hangat. 

kemudian, jeng jeng jeng, sebagai seorang mahasiswi perantau dengan status istri orang dan jarak yang terpisah jauh, yogya terasa mencengkam urat nadi dengan erat. mungkin ini menjadi salah satu faktor penambah kenapa saya tidak bisa menikmati jogja. hehehe, >,<. 
banyak hal di yogya yang bisa saya dapatkan, dibalik semua kelebihan dan kekurangannya, Yogya mengajarkan aku untuk kembali bersyukur. 
akhir kata, indah atau tidaknya suatu tempat itu kembali pada pribadi dan kebutuhan masing-masing.

maafkan saya jogja karena bagiku, kamu indah untuk sesaat namun tidak selamanya.


coretan penghilang lelah
Yogyakarta, April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar