Laman

clock

Senin, 09 April 2018

self Reminder

beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan teman-teman semasa sekolah.
apa yang kurasakan? bersyukur, bahagia, senang, malu, rendah diri, bersalah, iri, semua memucak menjadi satu. setelah semua yang terjadi, diri ini ingin menjadi lebih baik lagi dan lagi. mereka semua berkembang menjadi pribadi yang baik dan menawan, menjadi sosok manusia yang bersahaja dan beradab hingga terkadang membuat saya untuk sering berkaca. sebegitu pesatnya mereka tumbuh hingga menumbuhkan rasa iri di hati, kapan bisa seperti mereka.
yah, sosok mereka yang menjelma menjadi manusia yang lebih baik lagi, seakan menampar bahwa diri ini tiada arti. mengingatkan untuk tidak lupa diri karena di atas langis selalu ada langit.
pola pikir mereka yang tinggi dan melampaui arti, memecahkan tinggi hati ini dan lagi saya memeluk diri.
aah sejujurnya sudah sedari dulu diri ini mengagumi mereka, dengan kepintaran mereka, keuletan dan kesopanan mereka. dan sekarang mereka kembali dengan membuat terpana diri ini. bukan lagi dengan kepintaran mereka, tapi pribadi yang kian membuatku mengiri.
pola pikir mereka jauh berbeda, tidak lagi berkisar materi namun sudah menanjak ke jati diri. sementara diri ini? OMG, jauuuh sekali di telapak kaki masih mencari materi. bukannya membela diri, namun ntah kenapa di telapak kaki ini yang tertera adalah deretan materi yang harus kuhadiahi.

terkadang diri ini berpikir untuk berhenti mencari materi dan mulailah mencari jati diri, namun langkahku terhenti karena materi memang belum tercukupi. masih ada mamak dan ayah di sana yang lelah mengais rezeki, masih ada keluarga yang kusulitkan untuk sesuap nasi. masih banyak keluarga yang harus kuhidupi dan kubayar kembali. masih... masih banyak yang harus kubahagiakan di hidup ini dengan materi., dan untuk itu aku belum bisa beranjak penuh dari materi.

berlebihan, menjadi kekanakan dan memaksakan, menjadi egois dan tak berarti sepertinya melekat erat di diri ini, membangun suatu ego yang tak terpatahkan, lalu kemudian menyuruhku bertekuk malu dengan penyesalan.

aah diriku. berhentilah seperti itu,....
jangan buat aku malu menjadi tuanmu
jika tak bisa beranjak dari materi, ayo matangkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, untuk berpikiran lebih luas lagi, untuk mencari pengalaman tanpa henti,  untuk lebih bearti dan bermanfaat untuk sekitar diri ini, seperti mereka dan lebih dari mereka, pliss diriku, jangan sekadar mengiri tanpa arti.


Yogyakarta, April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar