Laman

clock

Senin, 04 Februari 2019

Dear Adikku

dear adikku.
aku hanya ingin kamu tahu..
aku sangat menyayangimu..
aku tetap seorang kakak yang tidak ingin siapapun melukaimu
aku tetap seorang kakak yang ingin melihatmu bahagia
dear adikku..
doaku untukmu, entah kapan akan dapat dipahami olehmu
aku mungkin yang terlalu kuat, atau bahkan terlalu lemah di hadapanmu..
semuanya menjadi abu-abu..
semuanya menjadi sendu
ketika kamu tak bisa berbicara pelan untukku
tahukah kamu,
betapa sakitnya aku ketika kamu membentakku?
tahukah kamu,
kecewanya aku ketika aku ingin ada seseorang yang memahamiku, tapi kamu berada di posisi yang bersebrangan denganku?
tahukah kamu
betapa hinanya aku, ketika kamu menghardikku di depan semua orang bahkan suamiku,
tahukah kamu
betapa malunya aku ketika kamu bahkan tak bisa bercanda denganku
tahukah kamu
betapa marahnya aku, ketika kamu tak bisa sopan dengan suamiku

dear adikku
katakanlah kesalahanku
hingga kamu tak bisa melihatku sebagai sosok kakakmu

dear adikku
apakah kamu tahu, rasa marah, kecewa, dan sedih ini telah menjadi satu hingga aku ingin memutuskan berhenti mengenalmu. aku ingin berlari dari hadapanmu, agar kamu lebih mengerti arti hadirku. agar kamu mengerti arti sebuah keluarga. arti sebuah kemandirian.

tapi aku tak sanggup, karena aku tahu ini akan menyakitkan untuk ayah dan ibu. menyaksikan anak-anaknya saling menjauh...menyaksikan anaknya pisah dan bersebrangan, tentu sangat menyakitkan untuk orangtua manapun. sementara aku disini, di usiaku 25 tahun ini.. aku berhenti, aku menyerah untuk memahamimu adikku... aku terlalu lelah dengan semua ketidaksopananmu terhadapku..

katakan adikku, apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku ubah terhadapmu?
apakah aku pernah memukulmu adikku?
atau apakah aku selalu menyakitimu?
apakah aku selalu membentakmu?

katakan adikku
apakah yang kamu mau, aku tak lagi mempedulikanmu?

tahukah engkau adikku, rasa maluku di hadapan suamiku...
suamiku bahkan mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar. Tapi bagaimanapun, seorang suami takkan membiarkan istrinya dihina, dibentak, bahkan oleh adikknya sendiri.
tak malukah engkau terhadap suamiku, adikku?
sampai kapan engkau tunjukkan ketidaksopananmu terhadapku

mungkin, terlalu banyak budi pekerti
yang tak kau pahami sedari kecil

dear adikku, ketika kau membaca ini
hatiku telah hancur olehmu
maafkan aku
jika aku tak bisa bertahan denganmu

salam
kakakmu

Yogyakarta-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar