Laman

clock

Jumat, 04 Desember 2020

surat untuk suamiku

 


Assalamualaikum abi adzra..

Bagaimana kabarmu disana?

Semoga tenang disana, suami terbaikku.

Sembilan bulan sudah abi pergi meninggalkan umi dan adek di dunia ini. Semuanya berjalan sangat lambat dan sangat buruk tanpa abi. Kali ini, umi harus menanggung semua beban sendiri bi. Terasa amat menyakitkan tanpa abi. Menghadapi keluarga umi, keluarga abi, seorang diri. Menjawab, meladeni segala pernyataan dan pertanyaan yang seolah tak habis. Pertanyaan mereka serasa seperti jarum yang menusuk perlahan bi. Andai kamu lihat, akankah kamu menangis melihat istrimu bi? Istrimu rapuh serapuh rapuhnya. Lelah selelah-lelahnya bi. Merindukanmu tanpa henti. Merindukan kasih sayang cintamu bi.

Abi tau, betapa umi sangat berterimakasih untuk kedua orangtua kita?, semua itu kini perlahan pudar bi. Andai abi lihat, akankah abi marah kepada mereka bi? Mereka memojokkan, menyudutkan umi, bahkan hingga ingin memisahkan anak istrimu bi. Adilkah bi, tegakah abi melihat istri tercintamu ini ingin dipisahkan dengan anak terkasihmu?. Penghormatan, kasih sayang, itu pudar bi. Akankah abi akan meminta umi untuk terus bertahan menyayangi mereka bi? Mencoba menyayangi mereka terus menerus tanpa henti.

Abi tau, muara kasih yang umi bangga-banggakan perlahan harus terkikis dengan lelah yang berpanjangan bi. Hancur oleh perasaan mengalah. Umi ingin berkata kasar kepada muara kasih abi, tapi umi tahan untuk abi. Umi ingin berteriak kepada muara kasih umi, tapi umi pikir itu hanya membuat umi menjadi anak durhaka. Untuk tulang punggung yang menghidupi kita sedari kecil, umi kalah bi. Umi harus tersenyum, harus menerima perkataan mereka yang menyakitkan telinga.

Tak ada lagi yang memberikan umi pelukan bi. Tak ada pelukan. Abi tau rasanya? Umi ingin bersandar. Ingin menangis sekuat hati dalam sebuah pelukan. Melepas penat yang berat di bahu ini. Tapi tak ada yang mampu memeluk umi. Tak ada  bahu untuk bersandar. Abi tau, yang kata mereka cinta pertama? Cinta pertama umi, tak mampu memberikan pelukan yang umi inginkan. Bahkan pelukan itu tidak bertahan 5 detik. Saat umi bahkan belum mengucapkan, belum selesai menumpahkan airmata. Pelukan itu usai. Usai bi……………….

Hingga umi terhenyak. Dimana pelukan itu? Ketika muara kasih dan tulang punggung tak dapat membalas pelukan yang umi butuhkan. Hanya abi, tulang rusuk yang memberikan umi kasih sayang seutuhnya. Tak ada lagi kini, tangan lembut yang mengelus kepala umi setiap malam, yang mengelus mesra mengisi perasaan cinta di hati ini. Tak ada lagi, bahu hangat untuk umi menumpahkan rasa kesal, sedih, amarah. Tak ada lagi tangan lembut yang mengusap airmata umi.

Yang ada sekarang tersisa tekanan. Kalimat-kalimat tajam yang mereka lontarkan. Kenapa mereka selalu dengan mudahnya berbicara tanpa memandang hati umi bi. Apa mereka sadar, betapa rapuhnya umi ketika harus tersenyum palsu menghadapi kalimat mereka. Apa mereka tahu, dibalik senyum itu, ada airmata yang tertahan sangat dalam.

Umi juga gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk anakmu bi. Umi tenggelam dalam perasaaan kesepian, hingga umi kadang harus menjauhkan diri dari buah hati kita. Umi mudah lelah menjaganya bi. Umi merasa gagal, ketika keluarga kita menuntut umi untuk selalu mengerti buah hati kita. Ketika umi bahkan tak boleh untuk menghirup udara dan menjaga kewarasan. Umi merasa menjadi ibu yang buruk, ketika mereka menanyakan umi dimana, kenapa umi lama sekali pulang. Bahkan saat umi keluar untuk membelikan susu dan peralatan mandi atau bahkan mainan buah hati kita, mereka bilang itu lama bi. Satu jam, itu lama. Apa abi tau, betapa terburu-burunya umi setiap berbelanja kebutuhan anak kita?.

Dan abi tau, apa yang paling menyakitkan? Ketika ada banyak orang yang mengkritik, mengomentari, tapi mereka tak membantu. Apa abi tau betapa inginnya umi pergi membawa mereka. Tinggal bersama buah hati kita dengan bebas. Betapa lelahnya umi bi, ketika harus menggendong anakmu yang ingin rewel karena ingin tidur, sementara susu belum dibuat. Kecewanya bi, ketika bantuan itu bahkan membangunkan anak kita. Susu tak sempurna, dan anak kita terbangun. Sempurna bi. Hanya bisa menarik dan mengeluarkan nafas agar tak menjadi anak durhaka. Saat muara kasihku sendiri tak bisa membantuku bahkan membuat susu anakmu, muaraku tak tahu takarannya bi. Bisa abi bayangkan, betapa kesalnya umi ketika bersusah payah meninabobokkan buah hati kita, tiba-tiba muaraku datang dan bercerita, mengacaukan mimpi indah anakmu. Bahu umi tertunduk lesu bi.

Umi gagal menjadi seorang ibu yang baik, dan gagal menjadi anak yang berbakti.

Umi ingin melangkah bi, ingin keluar dari perasaan kegagalan ini. Berusaha kuat untuk keluar dari ketidaknyamanan ini bi, tapi saat umi tersadar dengan perbuatan dan kalimat mereka umi merasa sia-sia bi. Umi merasa hanya menyiksa diri ketika umi harus seperti yang mereka katakan.

Bi, akankah umi menghianati cinta abi ?

Salahkah umi jika nanti bertemu seseorang yang dapat mengerti umi?

Akankah abi marah pada umi bi?

mereka semua, keluarga abi, keluarga umi, tetangga bahkan hingga orang yang sangat jauh dari umi, mengatakan jika umi harus memiliki suami baru lagi bi. mereka bahkan menjodohkan umi sesuka hati, menawarkan dan memasangkan umi dengan oranglain selayaknya barang. perih bi, perih teramat sangat untuk menerima perlakuan mereka. 

Umi harus memasang penyumbat telinga super dan membekukan hati bi, setiap umi mengatakan ‘cari suami baru’. Padahal umi hanya butuh mereka paham, umi seorang wanita dewasa yang mampu memutuskan kemana, bagaimana, dan mengapa umi pergi. Apakah hanya suami baru yang dapat membebaskan umi dari jeratan mereka bi?

Teman umi bilang, kalau saatnya umi mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah umi lakukan dalam hidup. Mencoba terbiasa tanpa perhatian dan kasih sayang. Umi rasa, umi akan melakukan itu bi. Umi tak ingin mencari bi, umi tak ingin hanya sekedar perhatian semu. Umi akan coba untuk hidup kuat tanpa perhatian dan kasih sayang bi. Umi akan coba semampu umi, hingga jika memang waktunya untuk umi kembali memiliki jodoh, umi harap jodoh itu yang menemukan umi.

Umi harap, takdir allah yang bekerja dengan semesta dan rangkaian doa yang baik. Salahkah bi, jika umi memilih ini?. Yang allah takdirkan, akan datang sendiri tanpa umi cari kan bi? Tak perlu umi merubah dan memaksakan diri, takdir itu akan membawakan seseorang yang mampu memberikan sayang, menerima umi dan buah hatimu seutuhnya kan bi? Memahami umi selayaknya wanita, selayaknya ratu yang berharga dalam hidupnya. Iyakan bi?

Umi hanya akan menanti bi. Jika cinta itu, penggantimu itu memang ada. Dia akan datang dengan takdir allah. Jika tidak, umi tau, allah akan berikan yang terbaik untuk umi.

Doakan istrimu untuk selalu kuat bi. Doakan secepatnya agar anak istrimu bisa mandiri. Bisa bekerja sendiri, memiliki rumah dan hidup menjalani bahagia dengan buah hatimu. Umi sudah tak sabar untuk mendekor rumah umi sendiri bi. Menikmati setiap sudut keindahan di rumah. Merasakan nafas yang nyaman setiap melihat sudut rumah. Umi menanti waktu untuk mengajarkan buah hati kita dengan metode impian umi. Tanpa kritikan, tanpa campur tangan, tanpa kacauan dari muara kasih dan tulang punggung kita berdua.

Jujur, mereka terlalu ikut campur bi. Membuat umi muak dan lelah dengan tuntutan tanpa pengertian. Doakan umi kuat untuk menjalani hari berikutnya bi. Ada banyak cerita yang umi tak sempat ceritakan pada abi. Hanya jeritan hati setiap kali yang berharap tersampaikan dan terurai, tapi gagal. Doakan umi untuk tegar menata hidup ini. Doakan cita dan impian umi tercapai bi. Dan untuk abi… abi selalu memiliki tempat teristimewa,  kebanggaan di hati ini. Terimakasih untuk cinta yang tulus ini bi. Abi membuat umi mengerti bagaimana rasanya dicintai. Terimakasih suami terbaikku.

Aku mencintaimu.

Kamar Adzra, Desember 20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar