Hai bi,
Tenangkah disana bi?
Sudah beberapa hari ini umi ingin
bercerita, tapi terkadang tubuh terasa lemas sekali untuk bergerak membuka
laptop dan mengetik surat untukmu. Tenang saja, doa untuk abi selalu terpanjat
baik disetiap lima waktu ataupun saat umi bersama adek, semoga pahala surat dan
doa sampai ke abi ya bi.
Bi, beberapa hari ini umi ke
rumah nenek setiap pagi sampai sore. Membantu hari, adin dan Julian mengerjakan
ulangan. Abi tau rasanya kan mengajari mereka dengan ego remaja yang kadang
susah nangkep. Umi banyak belajar dari mereka untuk bersabar bi. Hanya saja,
umi merasa tidak nyaman dengan kalimat ntah cara hidup yang bagi umi tak sesuai.
Terkadang umi juga disudutkan disana, dikritik tentang cara mengasuh adek yang
tidak pake ayunan, bubur yang katanya tidak sesuai, dan banyak lainnya. Lelah terkadang
bi. Andai saja ada abi, umi mungkin takkan selalu kesana untuk melepas penat. Iya
bi, umi melepas penat disana, terkadang umi bisa baring disana, memainkan hp,
atau mengerjakan tugas. Adek dijaga nekcu, ntah nekcik, ntah tokcik, ntah onti
ataupun oom nya bi. Keramaian itu mampu membuat umi menghabiskan hari dengan
lebih baik bi. Banyak cerita dan permainan yang dilakukan bersama disana. Meskipun
umi harus menutup telinga untuk perkataan mereka yang menyakitkan, tapi tetap
menyenangkan untuk umi disana.
Dirumah, umi lelah melihat rumah
yang kacau balau. Mamak yang terus mengeluh, dan tak ada yang membantu umi
menjaga adek. Menemani umi bercerita. Semua terasa melelahkan ketika dirumah
bi. Ketika dari pagi umi harus dikejar waktu untuk memandikan adek, menyiapkan
makan, menyuapi, mengajak bermain, baru kemudian tidur. Kemudian terus berulang
berlanjut tanpa waktu untuk melegakan hati. Saat ada waktu untuk bersantai, itu
dipenuhi dengan tuntutan dari mamak. Kadangkala walaupun tidak ada tuntutan,
umi sendiri merasa bersalah, merasa tertekan melihat rumah berantakan, melihat
mamak yang bekerja sendiri. Jujur bi, umi tak sanggup jika harus mengerjakan
semuanya. Umi biarkan perasaan bersalah ini, perasaan tertekan ini bi. Umi durhaka
ya bi?
Mamak selalu membandingkan
masanya dengan masa umi. Sementara umi sendiri tahu, mamak tak pernah merawat
anaknya full, karena banyak adik mamak yang membantu mengurusi semuanya. Umi sendiri
lelah bi, karena sikap mamak yang tak pernah bisa membuat rumah rapi dan
bersih. Sikap semua orang dirumah ini. Umi selalu berharap untuk lari dari
rumah ini bi, agar umi tak membenci mamak. Agar umi dapat menyayangi dan
merindukan mamak seperti dahulu. Umi tak ingin menjadi anak yang tak berbakti
bi, namun umi juga tak sanggup menyesuaikan diri dengan mamak.
Umi ini persis seperti mamak. Emosi,
dan keinginan selalu meledak. Umi hindari itu bi. Umi tak ingin hanyut dalam
nafsu dunia yang membuat lelah jiwa. Umi ingin menjadi manusia yang lebih baik.
Abi tau, umi seringkali mencari informasi dan bahkan ikut seminar agar
kehidupan rumah tangga lebih baik. Agar umi dapat memanajemen waktu dan biaya. Doakan
umi dapat selalu menerapkan aturan untuk diri umi ya bi.
umi merasa bersalah kepada mamak
bi. Umi sadar diri umi yang sekarang sangat memberatkan mamak. Bolehkah umi
bahagia dengan melihat mamak bahagia bi? Perih sekali hati umi melihat mamak
tak bahagia bi, tapi sekali lagi, umi tak sanggup untuk mengikuti semua
keinginan mamak bi. Umi hanya ingin mamak bersyukur dan menikmati hidup bi,
tapi susah sekali untuk membuat mamak berhenti dengan keinginan-keinginan dan
emosi masa tuanya. Susah sekali untuk membuat mamak bahagia tanpa harus membuat
orang dirumah tertekan.
Abi tau, sekrang umi sangat
lelah. Umi ingin banyak bercerita, tapi umi terlalu lelah. Umi lelah bi. Kita sambung
lain kali ya bi. Tulang tangan ini terasa tak bertulang bi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar