Hai bi,
Hari ini umi dikirimkan foto
rumah baru abi. Alhamdulillah sudah tersemen dengan baik bi. Abi tau, umi
sebenarnya ingin rumah terakhir abi tidak perlu memakai semen, cukup
menggunakan rerumputan agar setiap rumput itu bergoyang dan bertasbih, abi
mendapat keberkahan dari tasbih tersebut. Bukankah abi selalu menyenangi Sunnah
nabi? Dan umi coba lakukan bi. Tapi keinginan itu tinggal keinginan bi, umi
pertimbangkan keadaan umak bapak yang sudah tua, sementara kami hanya bisa
mengunjungi abi setahun sekali. Umi takut, nanti, kelak, tak ada yang merawat
rumah abi. Umi takut rumah terakhir abi nanti sulit ditemukan anak cucu kita. Umi
takut rumah abi malah menjadi semak belukar tak terawat.
Maafkanlah anak istrimu yang tak
bisa merawat rumah terakhir abi setiap waktu bi. Maafkan kami bi. Abi tau, umi
tak bisa tinggal diluar. Abi saja bahkan tak ingin tinggal disana, bagaimana
mungkin umi bisa bertahan disana bi?.
Abi tau, hari ini umi menimbang
buah hati kita. Timbangannya tetap tidak berubah dari bulan kemarin bi. Sedih hati
umi bi. Pandangan mata orang disekitar, ucapan mamak, seakan menghujam bahwa
itu kesalahan umi jika buah hatimu tidak naik timbangan bi. Andai abi disni,
apa yang akan abi katakana ke umi bi? . abi pasti berkata, bukan tolak ukur kan
bi? . umi akan mendebat abi dan bilang kalau tolak ukur kesehatan bisa dilihat
dari timbangan. Umi akan menyalahkan diri sendiri, walau dengan dukungan abi.
Kenapa umi selalu menyalahkan
diri sendiri bi?. Sepertinya sedari dulu setiap kali kita bercerita, sebagaimanapun
abi menyemangati umi, umi selalu menyalahkan diri sendiri ya bi. Seperti hari
ini, umi melihat banyak sekali kekurangan umi. Kegagalan umi. Kegagalan yang
sebenarnya percuma untuk umi pikirkan. Perasaan tak berdaya, perasaan rentan,
perasaan ditolak. Lalu kenapa? Umi pikir, tak masalah jika memang itu yang
orang pikirkan. Tapi faktanya, umi tak tenang dengan perasaan tak berdaya itu
bi. Umi resah. Umi pikir untuk membuktikan diri umi.
How bi? Pikiran yang sia-sia kan
bi. Membuktikan diri sendiri untuk oranglain, tak akan menimbulkan kepuasan dan
tidak akan membuktikan apapun selain perasaan hampa. Umi harus mencoba berdamai
dengan perasaan untuk menghormati pilihannya. Umi harus berdamai dan lepas dari
ketergantungan. Itu lebih baik yang harus umi tekankan.
Membuktikan diri sendiri pada
oranglain yang bahkan tak memahami dan tak bersama umi 1x24jam. Untuk apa?. Bukankah
yang menyukai umi tak butuh pembuktian betapa berkualitasnya umi? Dan yang
membenci umi juga takkan merubah penilaiannya. Biarkan mereka berpikir dan umi
yang harus berhenti mengharapkan mereka. Begitu kan bi?
Doakan istrimu untuk lepas dari
jeratan ketergantungan terhadap mereka bi. Umi mungkin belum menemukan tempat
bersandar untuk bisa lepas dari ketergantungan terhadap mereka, tapi umi akan
coba untuk berdiri di kaki ini bi. Sampai akhirnya umi dapat menumpahkan semua
perasaan ini, di waktu yang tepat dengan orang yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar