Laman

clock

Sabtu, 05 Desember 2020

aku hari ini

 

Hai bi,

Hari ini umi dikirimkan foto rumah baru abi. Alhamdulillah sudah tersemen dengan baik bi. Abi tau, umi sebenarnya ingin rumah terakhir abi tidak perlu memakai semen, cukup menggunakan rerumputan agar setiap rumput itu bergoyang dan bertasbih, abi mendapat keberkahan dari tasbih tersebut. Bukankah abi selalu menyenangi Sunnah nabi? Dan umi coba lakukan bi. Tapi keinginan itu tinggal keinginan bi, umi pertimbangkan keadaan umak bapak yang sudah tua, sementara kami hanya bisa mengunjungi abi setahun sekali. Umi takut, nanti, kelak, tak ada yang merawat rumah abi. Umi takut rumah terakhir abi nanti sulit ditemukan anak cucu kita. Umi takut rumah abi malah menjadi semak belukar tak terawat.

Maafkanlah anak istrimu yang tak bisa merawat rumah terakhir abi setiap waktu bi. Maafkan kami bi. Abi tau, umi tak bisa tinggal diluar. Abi saja bahkan tak ingin tinggal disana, bagaimana mungkin umi bisa bertahan disana bi?.

Abi tau, hari ini umi menimbang buah hati kita. Timbangannya tetap tidak berubah dari bulan kemarin bi. Sedih hati umi bi. Pandangan mata orang disekitar, ucapan mamak, seakan menghujam bahwa itu kesalahan umi jika buah hatimu tidak naik timbangan bi. Andai abi disni, apa yang akan abi katakana ke umi bi? . abi pasti berkata, bukan tolak ukur kan bi? . umi akan mendebat abi dan bilang kalau tolak ukur kesehatan bisa dilihat dari timbangan. Umi akan menyalahkan diri sendiri, walau dengan dukungan abi.

Kenapa umi selalu menyalahkan diri sendiri bi?. Sepertinya sedari dulu setiap kali kita bercerita, sebagaimanapun abi menyemangati umi, umi selalu menyalahkan diri sendiri ya bi. Seperti hari ini, umi melihat banyak sekali kekurangan umi. Kegagalan umi. Kegagalan yang sebenarnya percuma untuk umi pikirkan. Perasaan tak berdaya, perasaan rentan, perasaan ditolak. Lalu kenapa? Umi pikir, tak masalah jika memang itu yang orang pikirkan. Tapi faktanya, umi tak tenang dengan perasaan tak berdaya itu bi. Umi resah. Umi pikir untuk membuktikan diri umi.

How bi? Pikiran yang sia-sia kan bi. Membuktikan diri sendiri untuk oranglain, tak akan menimbulkan kepuasan dan tidak akan membuktikan apapun selain perasaan hampa. Umi harus mencoba berdamai dengan perasaan untuk menghormati pilihannya. Umi harus berdamai dan lepas dari ketergantungan. Itu lebih baik yang harus umi tekankan.

Membuktikan diri sendiri pada oranglain yang bahkan tak memahami dan tak bersama umi 1x24jam. Untuk apa?. Bukankah yang menyukai umi tak butuh pembuktian betapa berkualitasnya umi? Dan yang membenci umi juga takkan merubah penilaiannya. Biarkan mereka berpikir dan umi yang harus berhenti mengharapkan mereka. Begitu kan bi?

Doakan istrimu untuk lepas dari jeratan ketergantungan terhadap mereka bi. Umi mungkin belum menemukan tempat bersandar untuk bisa lepas dari ketergantungan terhadap mereka, tapi umi akan coba untuk berdiri di kaki ini bi. Sampai akhirnya umi dapat menumpahkan semua perasaan ini, di waktu yang tepat dengan orang yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar