Laman

clock

Jumat, 10 Maret 2023

jujur

 Setiapkali, aku merasa sesak. 

aku kesulitan mencari tempat, bahkan untuk sekedar mengetik di atas laptop. 

menjadi dewasa ternyata amat melelahkan. Mengatur waktu menghadapi tuntutan hidup membuat pinggangku terasa sangat lemah. Aku mengetik ini sambil berderai airmata. 

aku lelah, tapi tak ada tempat yang bisa memelukku. tak ada elusan yang menenangkanku. 

sempat terpikir untukku mencari sandaran, nadiku memaksa pikiranku untukku berteriak, " aku lelah, aku ingin bergantung pada seseorang, aku ingin menangis dalam pelukan seseorang dan menggantungkan hidupku disana. aku tau, aku tidak mungkin bisa menghindari tekanan hidup, aku pasti bangkit lagi setelah menangis dan berteriak lalu mengulangi perilaku ini lagi, tapi setidaknya aku tau aku tidak sendiri". 

pikiran lain menyambung. " aku ingin mencari pasangan lagi, tapi aku belum sanggup untuk menjalani tugas sebagai seorang istri, dan itu terasa sangat membebaniku. " 

hingga hanya tetesan air mata yang bisa ku ungkapkan saat ini. 

aku ingin ada seseorang yang memahamiku. memberiku terapi pelukan. 

tapi aku tak menemukannya saat ini. 

aku tak bisa mengatakan isi hati dan perasaanku. 

aku hanya bisa menangis dan menikmati setiap bulir mataku yang menetes dipipi. menghayati peranku sebagai wanita yang lelah dan lemah. 

aku mencari pelampiasan, menyalurkan kemarahan dan kesedihan. aku menyalahkan mereka yang tidak mengirimkanku foto peristirahatan abi adzra. aku berdalih, aku merindukan dia dan mereka tak pernah bisa membalas keinginanku, padahal hanya sekedar foto. 

aku tak bisa meraba saat ini aku benar-benar marah terhadap mereka, atau karena aku lemah tak berdaya tanpa anak mereka. aku lelah dengan keinginanku, ketakutan akan masa depan, ketakutan kurangnya materi untuk mengggapai harapan anakku. 

aaku sepertinya lelah menanggung ini semua sendiri. 

Kamis, 09 Februari 2023

katanya

ini cerita tentang bulan lalu yang belum sempat ku uraikan. 

mengasah kemampuan berpikirku untuk lebih mengenal jiwa. 

mendalami teori yang kupelajari lebih dalam, dan memahami diriku seutuhnya. 


katanya, aku punya luka dalam yang besar. 

ya, aku harus akui itu. Tapi luka ini, tidak membuat perilaku menjadi seperti yang dikatakan. 

Aku menyadari, aku tumbuh menjadi seorang yang cenderung perfeksionis, dengan pikiran yang obsesif dan idealis. Karakterku yang sulit diarahkan, cenderung kaku dengan aturan. Bagaimana semestinya, seharusnya, Baiknya, Bagusnya, aku mempertahankan itu semua dengan kaku. Bahkan cenderung memaksakan. bagian itu juga yang membuat kehidupan terasa Menyesakkan akhir-akhir ini. 

memahami perbedaan antara keinginan dan realita. Ya, memahami suatu masalah. 

aku menuntut diriku untuk..

- menjadi Ibu yang baik dengan pola asuh yang baik. Keinginan untuk menerapkan semua pola asuh, parenting untuk buah hati. ( Aku mau, aku berusaha, tapi waktu tak mengizinkan)

- menjadi anak yang berbakti dan menyenangkan keduaorangtua. Keinginan untuk melayani, memasak, membersihkan rumah, menyenangkan melihat kedua orangtua bersantai. (aku mau, aku berusaha tapi aku lelah. aku tak bisa lagi bekerja dan aku lelah menemani buah hati jika aku melayani)

- menjadi profesi yang profesional. keinginan untuk menyembuhkan pasien, menyenangkan dan memuaskan hati klien (aku mau, aku berusaha tapi aku tak bisa mengatur waktu karena prioritasku masih buah hatiku. dan aku selalu merasa ilmuku belum cukup., Padahal aku sendiri menyadari jika aku lebih berkualitas dari beberapa profesi yang kutemui, dan aku dengan bodohnya memaksakan hal-hal yang memang tidak dapat ku ubah)

- menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. keinginan untuk memuaskan semua keinginan pegawai, agar mereka dapat hak yang sesuai, menjalani pekerjaan yang menyenangkan dengan upah yang setara. (aku berusaha, tapi aku mulai menyadari bahwa aku tidak bisa memuaskan keinginan semua orang. bahkan aku mulai menganggap beberapa dari mereka serakah. aku tidak bisa menanamkan dihati mereka untuk mencintai pekerjaan mereka dan kebersyukuran atas pekerjaan ini.. aku harus menyadari jika mereka memang manusia unik yang harus kuhadapi.)

- menjadi diriku yang sesungguhnya. keinginan untuk bersantai tanpa terbebani, menarik nafas dengan bahagia tanpa adanya rasa lelah. aku memaksakan diriku untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat, minuman yang sehat, olahraga, makan yang sehat, tidur yang cukup, istirahat dan menyenangkan hati. (pada kenyataannya, aku bahkan menghabiskan waktu sebulan untuk 1 drakor, hmmmm ) 

dan beberapahal lainnya

pola pikir ini yang melelahkan bagiku. 

aku jengah dengan pikiran dan rutinitas yang menggangguku.

namun aku tau, aku tak sendirian mengalami ini.... 

Next, sepertinya targetku ikut pelatihan Mindfulness >,<


Allah maha Baik

pagi ini, aku sesak.
kemudian aku menyadari diri ini. 
hal yang membuatku sesak. 

aku selalu ingin mengerjakan banyak hal sekaligus.
menyelesaikan semuanya secara sekaligus
menuntut otakku untuk bekerja lebih keras dibawah tekanan.
lalu, sarafku tertekan dan menekan.
menjadikan kepalaku terasa berputar. Bahuku terasa berat. dan dadaku berdetak dengan sangat kencang. Disertai wajah yang terasa sangat lelah. 

hari ini, 
aku memikirkan laporan yang semakin bertambah. pelatihan esok hari, konseling di hari berikutnya, dan rapat di hari berikutnya. aku menyadari, hanya dengan memikirkan rutinitas kerja membuatku merasa tertekan dan lelah. 
kemudian aku berpikir, seandainya aku menjadi seorang pegawai, atau semakin banyaknya rutinitas yang dilimpahkan kepadaku sesuai keinginanku, mungkin aku akan semakin meledak. 
aku tau, semua ini akan terlewati satu persatu. tapi keinginanku untuk melewatinya dengan sebaik mungkin itu membuatku terasa tertekan. 

aku berpikir, "aku harus bisa" "aku harus mendapat pelajaran" "aku harus menguasai keterampilan" "aku harus profesional" "aku harus memberikan yang terbaik untuk mereka". 
pikiran-pikiran inilah yang membuatku menjadi lebih sesak dan tertekan. 
dan aku merenung, seandainya Allah berikan sesuai keinginanku, akan jadi apa aku saat ini...

Allah berikan aku kebutuhanku, bukan keinginanku. 
mungkin terasa sesak, tapi keinginanku mungkin akan jauh lebih menyesakkan.
dan Allah sayang padaku, sehingga Ia berikan rasa sesak yang masih mampu untuk ku tahan.
lagi, aku percaya... Tuhanku tidak akan memberi beban yang tidak mampu untuk kupikul. 
pagi ini, aku sesak, 
tapi aku tersenyum, dengan menyadari betapa serakahnya aku. 

Jumat, 13 Januari 2023

sesak

 2 minggu sudah

aku terhanyut dalam perasaanku sendiri. Aku masih mengeja akar dari masalahku. Lelah yang tiada habisnya, resah berkepanjangan, semangat yang memudar hingga tidur yang tak lagi menjadi obat. 

aku sadar ada yang salah dari diriku. Ada emosi dan pikiran yang aku abaikan. Aku Menyalahkan semua keadaan. Aku merasa tidak berdaya tanpa adanya abi Adzra. 

aku menyalahkan kepergiannya karena ketidakberdayaanku. Aku berangan-angan memiliki pasangan baru, tapi mereka tak mengerti diriku. aku takut. Aku berharap pada seseorang yang aku tau tak sepaham denganku. Bukan salahnya. Ini perasaanku yang seperti merindukan manisnya madu. Merindukan seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar. Aku sedikit berharap padanya, meskipun aku tau tidak mungkin dia mengertikanku. bukan salahnya, karena aku yang memunafikkan diriku di hadapan oranglain. 

aku tak mampu menunjukkan diriku. Aku menunjukkan kebaikanku, menyembunyikan keburukanku. Sungguh, satu-satunya orang yang sedari dulu kutunjukkan kurangku tanpa ku peduli ditinggalkan satu-satunya adalah abi adzra. 

dan saat ini, aku berpikir untuk menunjukkan kelemahan, keburukanku, kekuranganku, tapi aku tak menemukan orang yang tepat

dan saat ini aku sesak

Sabtu, 24 Desember 2022

selamat hari ibu

Selamat hari ibu, untuk diriku

untuk aku yang telah kuat menjadi seorang ibu. 

kamu hebat, kamu mengeluh namun tetap bertahan. 

terimakasih untukmu, liza nopriza. 


dan lagi, aku mengeluh hari ini. 

aku merasa aku terlalu baik. malah amat terlalu baik. Aku terlalu menuntut diriku untuk mengikuti norma dan memahami perasaan oranglain. Dasar aku. 

Aku lelah, aku tak ingin mudik ke pagaralam. 

aku ingin liburan ke jakarta, atau hotel lainnya untuk menenangkan diri. 

menarik diri dari hiruk pikuk dunia. 

aku terlalu letih untuk menyebrang dan mudik, tapi.. ada rasa dan perasaan berdosa dalam diri ini jika tidak mudik. Aku merasa kejam terhadap mertuaku, merasa bersalah terhadap mereka. Walau sedikit, aku juga ingin mengelus nisan suamiku, mengenalkan adzra pada abinya. Meskipun begitu, masalah ziarah ini tidak terlalu membebaniku, karena bagiku sudah cukup untukku berdoa dan mengajarkan adzra untuk berbakti setiap waktu mengirimkan doa untuk abinya. 

aku merasa bersalah jika tidak mudik, merasa seperti aku tidak berbakti kepada suamiku karena mengabaikan perasaan keduaorangtuanya. 

iya, seharusnya jika bertemu mereka bisa datang saja ke bangka. Menemui cucu mereka. Tapi aku yang berprofesi sebagai seorang pembaca manusia, tak bisa begitu saja mengabaikan harapan mereka. Meski terkadang harapan mereka itu menyakitiku, mengabaikanku, membuatku terluka. Hanya dengan mengenang bahwa aku dan suamiku, anak mereka memiliki visi dan misi ketika menikah, mengenang bermilyaran kasih sayang yg diberikan suamiku, anak mereka. Membuatku merasa bersalah dan bertanggungjawab atas mereka. 

aku tau ini salah. makanya kusebut diriku terlalu baik. Terlalu Bertanggungjawab atas hal yang sudah sepatutnya bukan lagi tanggungjawabku. Aku hanya penghubung, tapi aku seolah terus harus mewujudkan hal-hal yang pernah aku dan suamiku ceritakan. 

entah diriku yang mana kali ini yang akan menang.

kuharap, kamu lebih mengerti dirimu liza. 

tidak mengapa beristirahat sekarang,waktunya juga belum tepat untuk adzra.

tidak mengapa kejam dan menutup telinga hingga beberapa waktu

menebalkan hati dan menjalani hari yang kamu mau.

kuharap, kamu memutuskan dengan baik.



note : aku ingin berbincang tentang ini dengan seseorang, tapi aku tak menemukan orang yang tepat 

Jumat, 09 Desember 2022

ketika semua bertanya, kapan?

Dua hari ini sudah, 

Aku gelisah. Mereka mempertanyakan " kamu kapan? ", " kamu pernah dan terpikirkan tidak untuk menikah, kembali ? " kata mereka dengan penekanan pada kata kembali. 

aku menjawab dengan jujur. "Aku terpikirkan, aku ingin menikah kembali, tapi saat ini aku tidak menemukan orang yang sesuai. sosok yang mampu ku percaya dan pas dihatiku".  

mereka jawab. "Alhamdulillah". 

dan setelah itu, hatiku terasa sakit. Aku ingin menikah kembali. aku merasa kasihan pada diriku sendiri... Aku melihat seorang wanita hamil, aku teringat akan hangatnya belaian tanganmu diperutku bi. Usapan tanganmu di kepalaku. Pelukan dan perhatianmu yang sangat membahagiakanku. 

lalu setelah itu diperjalanan aku melihat seorang wanita muda didampingi seorang laki-laki mendorong bayinya di Stroller. Hatiku perih, mengingat aku yang seorang diri mendorong buah cinta kita tanpa aku bersamamu bi. 

semua berkilas balik dan aku merasa benci. aku benci dengan diriku yang melalui semuanya tanpamu. Aku merasa menyedihkan, aku ingin merasakan semuanya denganmu. 

saat tiba dirumah, Buah hati kita yang tumbuh pesat berkembang dengan cerdas dan ceriwis. Setiap celotehannya membuat hatiku tersentuh bahagia. Tapi aku, membayangkan kamu yang mendengarnya. Aku membayangkan ekspresimu saat mendengar celotehannya. Aku membayangkan kamu yang bergulat dengan buah hati kita. Membayangkan kita bertiga yang bermain bersama penuh canda tawa. Kamu dengan tingkah konyolmu, anak kita yang jenaka, dan aku yang aneh. Bukankah akan sangat menyenangkan dan konyol?. Kurasa kita akan jadi keluarga jenaka yang menyenangkan. 

Kamu, yang pastinya akan selalu sedih melihatku mendidik anakmu dengan tegas. Kamu yang tidak tegaan dengan anakmu. Kamu yang akan selalu bermain dengan anakmu. Aku tau itu, aku tau kamu, karna waktuku denganmu tidaklah singkat. 

Bayangkan betapa teriris dan pedihnya hatiku dua malam ini. Bahkan saat aku mengetik ini sambil melihat anakmu berjalan berlari kesana kemari dengan senyum polos dan mata berbinar-binar seraya memonyongkan bibirnya, air mataku berembun. ingin kamu melihat apa yang aku lihat. Ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Ingin kamu disini juga. 

INGIN KAMU DISINI. 



Senin, 28 November 2022

biarkan aku

aku, bernyanyi. 

menghayati meresapi lirik yang menyatu ke hati. 

kamu tak hilang, takkan hilang dalam kenangan. 

kamu takkan pernah terhapuskan

kamu pergi, bukan berarti aku tak bisa mengingatmu lagi. 

kepergianmu, kamu dan kenanganmu. Bukan untuk dilupakan. 

aku bisa menjalani hari, tanpa harus melupakanmu

kepergianmu bukan untuk dilupakan. 

bukan untuk memutus semua kenangan


tapi kenapa, 

semua seolah ingin aku melupakan

aku sakit karna dipaksa untuk memutus kenangan

yang tak mungkin bisa manusia lakukan

aku punya ingatan

aku punya perasaan

aku manusia normal dengan kenangan

biarkan aku mengenang, 

biarkan aku menyimpan

biarkan aku mengingat

biar aku memeluk hati yang pernah sempurna ini. 


" korbankan diri dalam ilusi

hilangkan rindu yang membelenggu

membuang waktu bersama mimpi

walaupun sepi takkan berlalu. 

pada malam ku titipkan salam untuk dirimu yang aku sayang"