Laman

clock

Selasa, 20 April 2021

Katanya aku tak begitu kehilangan



🥺
 Hari ini... 

Akhirnya aku bisa menulis lagi. 

Semalam... kulihat status adikmu bi. Dia bilang merindukanmu karena semenjak kepergianmu dia banyak menanggung beban sendirian🥺. Aku turut berduka untuk itu. 

Apakah kamu tau pandangan



orang-orang terhadapku bi? Mereka pikir, mereka bilang, aku tidak kehilanganmu. Tidak seperti kedua orangtua dan adikmu yg kehilanganmu.. 😭.. senyum bi. Cuma itu yg bisa aku, sebagai istrimu lakukan. 

Ntah dimana akal sehat mereka yang mengatakan itu semua. Hanya karena aku tersenyum depan mereka. Hanya karena aku jarang menulis status sedih merindukanmu, menceritakan bebanku di media sosial, dengan mudahnya mereka menyimpulkan, mereka bilang aku tak merindukanmu, tak menanggung beban sebanyak keluargamu. Perih. 

Ketika mereka bilang, suami bisa di cari lagi. Anak tak dapat diganti. Ingin ku teriakkan kepada mereka bi. Kalau suami dapat di cari, maka anak dapat dibuat lagi. 

Hanya kamu yg tau, bagaimana aku merindukanmu dan menangisi hidup ini. Aku tak bisa untuk membiarkan oranglain melihatku terpuruk. Melihatku menangis tersedu. Aku tak ingin menangis seperti itu. Mereka takkan bisa berbuat apapun untuk airmata ini bi. Aku lebih memilih mengeluarkan airmata dipelukanmu. Seperti sebelumnya. Hingga saat ini, aku hanya bisa menangis dalam kegelapan malam. 

Aku tak tau beban seperti apa yang keluargamu tanggung. Aku juga tau mereka sakit karena kehilanganmu. Bukan salah mereka jika mereka dan orang2 disekitar bilang sedih karena merindukanmu, atau beban mereka bertambah sejak kehilanganmu. 

Hanya saja. Kupikir tak seharusnya mereka bilang beban mereka bertambah semenjak kehilanganmu. Kupikir yang mereka rasakan hanya 50% dari kehilanganmu. 

Hampir 7 tahun bersamamu. Aku mengerti bagaimana engkau menghabiskan waktumu untuk keluargamu. Kapan mereka menelpon, kapan mereka sms, kapan mereka datang. Aku mengerti. Bahkan ada banyak cerita yang kamu tak tahu dan aku lebih tahu.  Kita bahkan mengerti, masalah keluarga, masalah lingkungan, adikmu punya pacar, punya teman yang dulu selalu menjadi tempat berbagi. Kedua orangtuamu bercerita banyak melalui telepon. Kamu hanya tersenyum dan mendengarkan, tanpa melakukan apapun. 

Sementara engkau pergi. Apa yang membuat perbedaan besar dalam masalah keluarga bi? . Apa yang membuat mereka menangis penuh melebihi aku bi. Satu tahun sekali engkau pulang. Seminggu sekali orangtuamu menelpon. Sebulan sekali adikmu datang. Hanya 35% yang mereka bagikan dan ceritakan padamu tentang hidup. 

Sementara engkau pergi. Aku yang 1x24 jam bersamamu. Setiap menit ditolongmu. Setiap jam selalu belasan chatmu. Setiap sore menunggumu pulang, setiap malam tidur di pelukanmu. Kamu ada di stiap hidupku setiap waktu. Tak ada celah. 100% kamu yang ada. 100% pula aku ada untukmu. Kita saling berbagi semuanya. 

Kenapa otak mereka masih tak bisa merasakan siapa yang paling kehilangan. Setiap orang ada proporsinya untuk kehilangan. Siapa yang paling kehilangan, kenapa seolah menjadi perlombaan. Tak perlu kuceritakan bagaimana hidupku dan hidupmu. Tak ingin kuceritakan, tak akan bi. Walau sejujurnya periiih hati ini setiap itu terjadi. 

Mereka bilang suami bisa dicari baru. Kita lihat bi, adikmu ketika menikah dan memiliki anak, apakah masih susah hidup untuk merindukanmu? Apakah hatinya berat menjalani kehidupan? 

Orangtuamu. Aku mengerti anak adalah harapan bi. Tapi, masih ada adikmu. Masih ada anakmu, anak adikmu. Masih memiliki cinta satu sama lain, masih hidup bersama di dalam satu atap. Masih bisa saling bercinta, saling memeluk, saling berpetualang bersama. Takkan ada yang menjadi penggantimu diantara mereka, sehingga takkan ada perasaan bersalah membandingkan antar manusia. Antar anak. Mereka masih bisa saling menyemangati tanpa harus mencari pengganti. Mereka bisa hidup mandiri berdua tanpa kekurangan jiwa dan raga. 

Aku bi. Aku istrimu. Tak ada lagi yang memelukku bi, tak ada teman yang bercinta denganku, tempat menumpahkan resah yang paling dalam. Tak ada yang membantuku disaat waktu. Tak ada yg memperhatikanku. Jiwa ragaku kekurangan bi. Hilang setengahnya. Anakmu takkan bisa menjadi penggantimu bi. Anakmu takkan bisa selalu menemaniku. Dia akan pergi nanti, ntah menuntut ilmu ataupun menikah. Mencari penggantimu? Aku akan menemukan tempat untuk bercinta, melengkapi jiwa dan ragaku. Iya. Kalaupun itu terjadi, tetap saja ada jiwa yang kosong untukmu. Merindukanmu, bahkan mungkin akan ada banyak batinku secara tak sengaja membandingkanmu dengan suami baruku. Akan ada luka padanya, dan pasti terluka dengan perasaanku yang tak lagi utuh. Bayangmu akan mengikutiku meskipun aku berusaha untuk menjalani hidup bersama yang baru. Akan ada siksaan dihatiku ketika mengingatmu. Siksaan ketika melihat orangtuamu, merasa bersalah, merasa tak nyaman, merasa bingung. Bagaimana harus bersikap pada orangtuamu, pada orang baru, semuanya ini akan mengikuti hingga akhir hayatku. Perasaanmu padaku akan selalu menjadi yang teristimewa di hatiku. 

Sulit bagiku untuk benar-benar mengingatmu sebagai kenangan terindah. Kamu adalah kerinduan yang tak akan pernah habis bi. Sekalipun terganti, kamu takkan pernah tergantikan. 

Masihkah mereka bilang bebanku lebih ringan bi? Ini semua yang dirasakan para janda bi. Sekalipun mereka menikah. Suami terdahulu mereka selalu menjadi yang teristimewa, selalu menjadi harapan mereka di keterpurukan. Selalu dibayangi. 

Masihkah mereka bilang janda lebih mudah dibandingkan keluarga suami? 

Mereka sungguh tak punya otak dan hati. 

Kamis, 15 April 2021

Pagi

 Sepagi ini...

Aku merindumu lagi. 

Mengenang saat pertama kita kepagaralam untuk unduh mantu. Hari pertama aku menginjakkan kaki dirumahmu bi. Ritual adat pernikahan hingga ke jalanjalan pertama kita berdua mengelilingi kota kelahiranmu. 

Saat kamu tersenyum sambil mengatakan 'umi istriku, cantik nian cak ini' terus terbayang dan menggema pagi ini. Saat kamu posesif dan ingin selalu memelukku, terasa baru kemarin terjadi. Hingga semua kenangan indah itu membuatku menghela nafas. Kenapa tuhan ambil secepat ini? 

Aku masih belum puas untuk menghabiskan waktu bersamamu. Masih banyak jalan dan cerita yang ingin kulalui sambil menggandeng tanganmu.  Sekarang aku sendiri menyusuri jalan, menggendong buah hati tanpamu menggandengku. 

Bi. Aku rindu. 

Ada banyak cerita yg menyesakkan pagi ini tentang rindu. Tapi semuanya bahkan tak bisa kurangkai dalam satu cerita. Tak perlu ku ceritakan semua, kamu tau kan perasaanku? Aku ingin menangis dipelukanmu. 

Apakah ini berarti aku tak ikhlas bi? 🥲

Selasa, 13 April 2021

Merindu

 Aku merindukanmu lagi dengan sesak hari ini bi. 

Banyak hal sepele, tapi begitu menyesakkan saat umi merindu abi. Harus terima, tapi rasanya tidak adil. Ingin mengakui tidak adil, tapi ini takdir. Tak bisa diganti, tak bisa berubah, tak bisa dipungkiri. 

Ingin memaki tuhan, tapi tak berani. Seringkali meminta tuhan memberikan kesempatan lagi, meminta hal yang mustahil🥲. Hanya bisa merindu bi. Dalam diam, dalam senyap, hati ini berharap kamu ada disisi. 

Memori tentangmu seakan diulas dengan tarikan nafasku. Tak kuminta, tak kupaksa, tapi berpadu sendirinya. Menyesakkan. Tapi tak bisa kubuang. 

Aku sendiri bahkan sulit mendeskripsikan rinduku ini bi. Terlalu menyesakkan dan berat. Sepanjang hari bayangmu disini. Cinta. Aku cinta kamu bi. Aku lemah tanpamu. Lelah. Rindu bi. Sayang, aku sungguh rindu kamu. 

Minggu, 11 April 2021

MORE

 Ada jutaan pilu dan cerita yang terendam di dalam hati ini bi. Hingga rasanya menyesakkan hingga ketulang. 

Umi pikir, umi akan terbiasa dengan sesaknya gumpalan rindu ini. Terbiasa dengan sakitnya telinga dan lelahnya mata. Terbiasa dengan jam yang terus berputar. Tapi nyatanya tidak. 

Sehari, ada 20 jam yang umi habiskan untuk merindu dan mengenangmu. Bercerita denganmu melalui hati ini, tanpa sempat menuangkannya dalam goresan. 

Pilu. 

Bersemayam kuat. 

Umi pikir umi bisa mencari sosok yang mau berbagi, tapi semakin umi melangkah untuk mencari sosok itu, umi semakin terperosok dalam bayangmu. Mencari sosok pengganti yang wajahnya mirip denganmu. Menginginkan pengganti yg sifatnya sama sepertimu. Berharap pengganti itu memiliki rasa cinta dan syang yg bahkan lebih besar darimu. Dan pada akhirnya, umi tak bisa melepaskan dirimu bi. Melepaskan cintamu yang telah mengakar di relung hidup ini. 

Umi rindu Abi. 


Jumat, 01 Januari 2021

akhir dan awal

hai bi. 

begitu banyak kisah yang terlewatkan dan tak bisa umi ceritakan untukmu bi. 

begitu banyak kesibukan dan lelah hati yang membuat umi bahkan tak mampu untuk membuka dan mengetik si putih. hingga hari ini, umi mencuri waktu untuk menceritakan sepenggal cerita berapa waktu terakhir ini bi. 

Sekarang, hari ini awal 2021 bi. Jumat, hari pertama yang mengawali tahun ini dan umi harap mampu menjadi awal yang baik untuk umi membuka lembaran baru. kebahagiaan yang umi, abi, dan yang kita harapkan di 2020, kandas bi. menyisakan puing-puing luka yang akan selalu berbekas hingga akhir hayat. 

2020 menjadi saksi begitu banyak perjalanan umi dan abi dimulai. untuk pertamakalinya setelah hidup di dunia ini selama 25 tahun, umi merasakan rawat inap di rumah sakit. 

pertamakalinya merasakan di infus, memakai selang oksigen, cek alergi, hal yang terasa menakutkan dan umi bisa melewatinya demi buah hati kita bi. pertamakalinya kita tidur berdua di ranjang rumah sakit ya bi. pertamakali pula umi merasakan ketakutan yang mendalam saat akan operasi Sc. hehee, bayangkan bi, untuk umi yang suntik aja takut tiba-tiba harus operasi. Kesan ruangan itu masih nyata menakutkan bi. dingin yang menusuk ke tubuh, telanjang dan berasa ditelanjangi bak tak ada arti di hadapan para tenaga kesehatan bi. perasaan sadar yang samar-samar seperti kematian bi. suara tak jelas, orang yang lalu lalang, umi pikir perjalanan umi di dunia berakhir saat itu. 

ada banyak kisah yang umi ingin ceritakan tentang perjalanan umi di ruang operasi kemarin, tapi umi pikir akan umi ceritakan di rumah, saat kita sedang mengasuh anak dengan tawa. takdir allah. di perjalanan pulang ke rumah abi sakit. 

untuk pertamakalinya, umi melihat abi masuk rumah sakit. pertamakalinya abi pergi ke rumah sakit tanpa bisa umi dampingi. pertamakalinya umi berjumpa dengan abi di rumah sakit dan dengan keadaan yang amat sangat tidak menyenangkan. pertamakalinya melihat, menemani abi dalam keadaan abi koma di ruang icu.  allah tak pernah memberikan ujian seperti ini untuk umi. ketika Allah beri, laksana seluruh dunia yang runtuh bi. 

hingga saat ini, kali pertama umi merasa sangat kecewa kepada umak bapak dan adek, kepada keluarga umi. pertamakalinya bi, dalam hidup umi harus merelakan kepergian seseorang ke alam kematian, dan tak pernah terbayangkan sosok itu harus abi. Tak pernah umi bayangkan, harus abi. pertamakalinya dalam hidup umi menyaksikan abi terbaring tak berdaya, menyaksikan abi sakaratul maut, menyaksikan ego keluarga abi, menemani abi di ambulans dalam keadaan tak bernyawa, menyaksikan abi di mandikan untuk terakhirkali. Abi tau, itu pertamakalinya umi takut dengan ambulans. Umi takut ambulans datang untuk membawa abi pergi, padahal umi belum puas memandangi wajah terakhir abi. umi serasa gila ketika mendengar ada suara mobil memasuki rumah. Padahal itu suara mobil mengantarkan kursi untuk pelayat bi. bisa abi bayangkan, histerisnya umi kala itu. 

pertamakali pula, umi menyaksikan bagaimana prosesi pemasangan kain kafan. pertamakalinya, umi ikut ke mesjid untuk sholat jenazah. pertamakalinya, umi melepas abi pergi dari gerbang depan rumah, dan tak bisa umi sambut lagi. uuh, hancur hati umi bahkan saat menulis ini bi. hancur sehancur-hancurnya. 

pertamakalinya, umi hidup hanya dengan bayangan abi. rasanya dunia runtuh, terasa sepi, terasa mati. segala sesuatu seperti akar yang menjerat. pertamakalinya umi menyadari, semua perkataan abi benar tentang hubungan kekeluargaan. pertamakalinya umi merasa bahagia sempat menjadi ratu abi di dunia ini. umi merasa bahagia sempat merasakan kenikmatan cinta itu, merasakan menjadi orang yang sangat istimewa. umi ragu, apakah masih ada sosok yang dapat menjadikan umi ratu. 

pertamakalinya, dunia ini terasa hambar bi. pertamakalinya umi melakukan semua hal seorang diri dalam sepi, dalam gelap, dalam tangis. tak ada yang mau menenangkan umi sepertimu bi. perasaan kecewa, perasaan sedih, perasaan bahagia, semua menjadi satu dan menumpuk. 

pertamakalinya umi merasa gila dan hilang arah. merasa semua beban dunia di pundak umi. Liza Nopriza telah mati bi. umi yang dulu begitu percaya diri dengan semua yang umi miliki, umi yang merasa mampu melewati berbagai rintangan hidup, umi yang yakin dengan kemampuan yang umi miliki, sekarang mati tak terarah bi. umi merasa terpuruk begitu dalam. pertamakalinya umi merasakan ketidakberdayaan tak berujung ini. meragukan semua prestasi, kemampuan yang pernah umi miliki. melihat betapa tidak berharganya diri ini tanpa umi. 

benarlah bi, seorang wanita itu akan kuat dan bersinar karena ada cinta dari pria dibelakangnya. Sosok pria itu hilang bi. hilang. membuat cahaya umi pudar, bahkan padam. tak ada lagi pesona dalam diri umi. tak ada lagi kepercayaan diri, dan kebanggan itu. hanya ada senyum bi. hanya tersisa senyuman, untuk memastikan bahwa umi masih mencoba untuk baik-baik saja. 

segala sesuatu yang terjadi, umi harap akan ada keajaiban untuk abi kembali ke sisi umi. suatu kegilaan yang melewati batas kan bi. 2021, umi harap umi dapat menemukan kebahagiaan yang mampu membuat umi percaya diri bi. mampu membuat umi yakin, bahwa umi berharga. 

2021, umi harap semua kedukaan ini hilang bi. umi harap duka ini digantikan allah dengan sukacita yang berlipat ganda. 

semoga ya bi. 

Jumat, 11 Desember 2020

 

Hai bi,

Tenangkah disana bi?

Sudah beberapa hari ini umi ingin bercerita, tapi terkadang tubuh terasa lemas sekali untuk bergerak membuka laptop dan mengetik surat untukmu. Tenang saja, doa untuk abi selalu terpanjat baik disetiap lima waktu ataupun saat umi bersama adek, semoga pahala surat dan doa sampai ke abi ya bi.

Bi, beberapa hari ini umi ke rumah nenek setiap pagi sampai sore. Membantu hari, adin dan Julian mengerjakan ulangan. Abi tau rasanya kan mengajari mereka dengan ego remaja yang kadang susah nangkep. Umi banyak belajar dari mereka untuk bersabar bi. Hanya saja, umi merasa tidak nyaman dengan kalimat ntah cara hidup yang bagi umi tak sesuai. Terkadang umi juga disudutkan disana, dikritik tentang cara mengasuh adek yang tidak pake ayunan, bubur yang katanya tidak sesuai, dan banyak lainnya. Lelah terkadang bi. Andai saja ada abi, umi mungkin takkan selalu kesana untuk melepas penat. Iya bi, umi melepas penat disana, terkadang umi bisa baring disana, memainkan hp, atau mengerjakan tugas. Adek dijaga nekcu, ntah nekcik, ntah tokcik, ntah onti ataupun oom nya bi. Keramaian itu mampu membuat umi menghabiskan hari dengan lebih baik bi. Banyak cerita dan permainan yang dilakukan bersama disana. Meskipun umi harus menutup telinga untuk perkataan mereka yang menyakitkan, tapi tetap menyenangkan untuk umi disana.

Dirumah, umi lelah melihat rumah yang kacau balau. Mamak yang terus mengeluh, dan tak ada yang membantu umi menjaga adek. Menemani umi bercerita. Semua terasa melelahkan ketika dirumah bi. Ketika dari pagi umi harus dikejar waktu untuk memandikan adek, menyiapkan makan, menyuapi, mengajak bermain, baru kemudian tidur. Kemudian terus berulang berlanjut tanpa waktu untuk melegakan hati. Saat ada waktu untuk bersantai, itu dipenuhi dengan tuntutan dari mamak. Kadangkala walaupun tidak ada tuntutan, umi sendiri merasa bersalah, merasa tertekan melihat rumah berantakan, melihat mamak yang bekerja sendiri. Jujur bi, umi tak sanggup jika harus mengerjakan semuanya. Umi biarkan perasaan bersalah ini, perasaan tertekan ini bi. Umi durhaka ya bi?

Mamak selalu membandingkan masanya dengan masa umi. Sementara umi sendiri tahu, mamak tak pernah merawat anaknya full, karena banyak adik mamak yang membantu mengurusi semuanya. Umi sendiri lelah bi, karena sikap mamak yang tak pernah bisa membuat rumah rapi dan bersih. Sikap semua orang dirumah ini. Umi selalu berharap untuk lari dari rumah ini bi, agar umi tak membenci mamak. Agar umi dapat menyayangi dan merindukan mamak seperti dahulu. Umi tak ingin menjadi anak yang tak berbakti bi, namun umi juga tak sanggup menyesuaikan diri dengan mamak.

Umi ini persis seperti mamak. Emosi, dan keinginan selalu meledak. Umi hindari itu bi. Umi tak ingin hanyut dalam nafsu dunia yang membuat lelah jiwa. Umi ingin menjadi manusia yang lebih baik. Abi tau, umi seringkali mencari informasi dan bahkan ikut seminar agar kehidupan rumah tangga lebih baik. Agar umi dapat memanajemen waktu dan biaya. Doakan umi dapat selalu menerapkan aturan untuk diri umi ya bi.

umi merasa bersalah kepada mamak bi. Umi sadar diri umi yang sekarang sangat memberatkan mamak. Bolehkah umi bahagia dengan melihat mamak bahagia bi? Perih sekali hati umi melihat mamak tak bahagia bi, tapi sekali lagi, umi tak sanggup untuk mengikuti semua keinginan mamak bi. Umi hanya ingin mamak bersyukur dan menikmati hidup bi, tapi susah sekali untuk membuat mamak berhenti dengan keinginan-keinginan dan emosi masa tuanya. Susah sekali untuk membuat mamak bahagia tanpa harus membuat orang dirumah tertekan.

Abi tau, sekrang umi sangat lelah. Umi ingin banyak bercerita, tapi umi terlalu lelah. Umi lelah bi. Kita sambung lain kali ya bi. Tulang tangan ini terasa tak bertulang bi.

Sabtu, 05 Desember 2020

aku hari ini

 

Hai bi,

Hari ini umi dikirimkan foto rumah baru abi. Alhamdulillah sudah tersemen dengan baik bi. Abi tau, umi sebenarnya ingin rumah terakhir abi tidak perlu memakai semen, cukup menggunakan rerumputan agar setiap rumput itu bergoyang dan bertasbih, abi mendapat keberkahan dari tasbih tersebut. Bukankah abi selalu menyenangi Sunnah nabi? Dan umi coba lakukan bi. Tapi keinginan itu tinggal keinginan bi, umi pertimbangkan keadaan umak bapak yang sudah tua, sementara kami hanya bisa mengunjungi abi setahun sekali. Umi takut, nanti, kelak, tak ada yang merawat rumah abi. Umi takut rumah terakhir abi nanti sulit ditemukan anak cucu kita. Umi takut rumah abi malah menjadi semak belukar tak terawat.

Maafkanlah anak istrimu yang tak bisa merawat rumah terakhir abi setiap waktu bi. Maafkan kami bi. Abi tau, umi tak bisa tinggal diluar. Abi saja bahkan tak ingin tinggal disana, bagaimana mungkin umi bisa bertahan disana bi?.

Abi tau, hari ini umi menimbang buah hati kita. Timbangannya tetap tidak berubah dari bulan kemarin bi. Sedih hati umi bi. Pandangan mata orang disekitar, ucapan mamak, seakan menghujam bahwa itu kesalahan umi jika buah hatimu tidak naik timbangan bi. Andai abi disni, apa yang akan abi katakana ke umi bi? . abi pasti berkata, bukan tolak ukur kan bi? . umi akan mendebat abi dan bilang kalau tolak ukur kesehatan bisa dilihat dari timbangan. Umi akan menyalahkan diri sendiri, walau dengan dukungan abi.

Kenapa umi selalu menyalahkan diri sendiri bi?. Sepertinya sedari dulu setiap kali kita bercerita, sebagaimanapun abi menyemangati umi, umi selalu menyalahkan diri sendiri ya bi. Seperti hari ini, umi melihat banyak sekali kekurangan umi. Kegagalan umi. Kegagalan yang sebenarnya percuma untuk umi pikirkan. Perasaan tak berdaya, perasaan rentan, perasaan ditolak. Lalu kenapa? Umi pikir, tak masalah jika memang itu yang orang pikirkan. Tapi faktanya, umi tak tenang dengan perasaan tak berdaya itu bi. Umi resah. Umi pikir untuk membuktikan diri umi.

How bi? Pikiran yang sia-sia kan bi. Membuktikan diri sendiri untuk oranglain, tak akan menimbulkan kepuasan dan tidak akan membuktikan apapun selain perasaan hampa. Umi harus mencoba berdamai dengan perasaan untuk menghormati pilihannya. Umi harus berdamai dan lepas dari ketergantungan. Itu lebih baik yang harus umi tekankan.

Membuktikan diri sendiri pada oranglain yang bahkan tak memahami dan tak bersama umi 1x24jam. Untuk apa?. Bukankah yang menyukai umi tak butuh pembuktian betapa berkualitasnya umi? Dan yang membenci umi juga takkan merubah penilaiannya. Biarkan mereka berpikir dan umi yang harus berhenti mengharapkan mereka. Begitu kan bi?

Doakan istrimu untuk lepas dari jeratan ketergantungan terhadap mereka bi. Umi mungkin belum menemukan tempat bersandar untuk bisa lepas dari ketergantungan terhadap mereka, tapi umi akan coba untuk berdiri di kaki ini bi. Sampai akhirnya umi dapat menumpahkan semua perasaan ini, di waktu yang tepat dengan orang yang tepat.