Laman

clock

Senin, 12 Februari 2024

Tidur

 Pagi ini, aku bertemu denganmu kembali. 

Setelah sekian lama engkau tak muncul di dalam mimpi ini. Senyumanmu masih sama, tak ada paksaan ataupun tatapan tajam untukku. Kehadiranmu membuatku enggan untuk membuka mata. Saat tubuhku bereaksi terhadap matahari yang beranjak naik, aku menarik selimut untuk kembali memejamkan mata dan berharap dapat melanjutkan kisah bersamamu, walaupun hanya dalam mimpi. 

jikalau bisa, aku bahkan tak ingin membuka mata kembali. aku ingin larut dalam mimpi dan hidup bersamamu. 

disini terlalu sakit, terlalu menyiksa. 

surgaku berubah menjadi neraka, atau justru aku yang menjadi neraka untuk surga. 

aku tak mencuri, aku tak berzina, aku tak memukul orang, aku tak minum minuman keras, aku tak melacur, aku tak memaki ataupun menghina orang yang lebih tua. 

Sekuat hatiku mengabulkan semua keinginan surgaku, mentaati, mengiyakan, semuanya...

Tak mau ku menimbulkan rasa kecewa untuk mereka. 

waktu, tenaga, materi, semua terasa habis kucurahkan untuk melayani keluarga besar. Terasa seperti Pengabdian. Rasa iba yang tertanam karena rayuan dari surgaku, tak perduli menghabiskan seberapa besar energi dan materi yang kumiliki. tapi nyatanya itu semua tak pernah cukup untuk menjadikanku sebagai anak yang berbakti. 

semua itu tak cukup untuk menunjukkan keberhasilanku sebagai anak. 

aku dibenci, aku dijauhi, aku disiksa, aku dianggap tak ada karena aku dianggap tak sopan saat meminta orangtuaku untuk tak mencampuri caraku mendidik anak. 

aku yang tak mencuri, tak melacur, tak berzina, tak berjudi, dihakimi seolah aku adalah anak yang paling buruk. Bahkan keluarga besar yang ku urusi, yang anaknya mencuri, yang anaknya berzina, yang anaknya tak bisa apapun, tak mendapat hukuman seberat ini dari orangtuanya. 

kenapa aku, yang bahkan hanya mengungkapkan perasaan dan rasa marah, justru mendapatkan hukuman yang jauh lebih buruk dari mereka. kenapa justru aku yang mendapat label anak yang tak dapat diurus, kenapa justru aku. 

aku bahkan tak tau harus berkata pada siapa, harus bergantung pada siapa. 

aku hanya sendiri, 

kupikir, saat kepergianmu adalah masalah terberat untukku, tapi nyatanya aku salah. Menjalani hari setelah kepergianmu adalah ujian yang paling berat untukku. 

iya, 

masalah paling berat bukan saat suamiku pergi. tapi masalah paling berat adalah menghadapi hari setelah kepergian suami. 

jangan tanya aku bagaimana saat ini, aku terlalu hancur karena surgaku sendiri. 

aku ingin terlelap dan bertemu suamiku lagi dalam mimpi

aku tak ingin membuka mata dan merasakan sakit ini lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar