Assalamualaikum abi
adzra..
Bagaimana kabarmu disana?
Semoga tenang disana, suami
terbaikku.
Sembilan bulan sudah abi pergi
meninggalkan umi dan adek di dunia ini. Semuanya berjalan sangat lambat dan
sangat buruk tanpa abi. Kali ini, umi harus menanggung semua beban sendiri bi. Terasa
amat menyakitkan tanpa abi. Menghadapi keluarga umi, keluarga abi, seorang
diri. Menjawab, meladeni segala pernyataan dan pertanyaan yang seolah tak
habis. Pertanyaan mereka serasa seperti jarum yang menusuk perlahan bi. Andai kamu
lihat, akankah kamu menangis melihat istrimu bi? Istrimu rapuh serapuh
rapuhnya. Lelah selelah-lelahnya bi. Merindukanmu tanpa henti. Merindukan kasih
sayang cintamu bi.
Abi tau, betapa umi sangat
berterimakasih untuk kedua orangtua kita?, semua itu kini perlahan pudar bi. Andai
abi lihat, akankah abi marah kepada mereka bi? Mereka memojokkan, menyudutkan
umi, bahkan hingga ingin memisahkan anak istrimu bi. Adilkah bi, tegakah abi
melihat istri tercintamu ini ingin dipisahkan dengan anak terkasihmu?. Penghormatan,
kasih sayang, itu pudar bi. Akankah abi akan meminta umi untuk terus bertahan
menyayangi mereka bi? Mencoba menyayangi mereka terus menerus tanpa henti.
Abi tau, muara kasih yang umi
bangga-banggakan perlahan harus terkikis dengan lelah yang berpanjangan bi. Hancur
oleh perasaan mengalah. Umi ingin berkata kasar kepada muara kasih abi, tapi
umi tahan untuk abi. Umi ingin berteriak kepada muara kasih umi, tapi umi pikir
itu hanya membuat umi menjadi anak durhaka. Untuk tulang punggung yang
menghidupi kita sedari kecil, umi kalah bi. Umi harus tersenyum, harus menerima
perkataan mereka yang menyakitkan telinga.
Tak ada lagi yang memberikan umi
pelukan bi. Tak ada pelukan. Abi tau rasanya? Umi ingin bersandar. Ingin menangis
sekuat hati dalam sebuah pelukan. Melepas penat yang berat di bahu ini. Tapi tak
ada yang mampu memeluk umi. Tak ada bahu
untuk bersandar. Abi tau, yang kata mereka cinta pertama? Cinta pertama umi,
tak mampu memberikan pelukan yang umi inginkan. Bahkan pelukan itu tidak
bertahan 5 detik. Saat umi bahkan belum mengucapkan, belum selesai menumpahkan
airmata. Pelukan itu usai. Usai bi……………….
Hingga umi terhenyak. Dimana pelukan
itu? Ketika muara kasih dan tulang punggung tak dapat membalas pelukan yang umi
butuhkan. Hanya abi, tulang rusuk yang memberikan umi kasih sayang seutuhnya. Tak
ada lagi kini, tangan lembut yang mengelus kepala umi setiap malam, yang
mengelus mesra mengisi perasaan cinta di hati ini. Tak ada lagi, bahu hangat
untuk umi menumpahkan rasa kesal, sedih, amarah. Tak ada lagi tangan lembut
yang mengusap airmata umi.
Yang ada sekarang tersisa
tekanan. Kalimat-kalimat tajam yang mereka lontarkan. Kenapa mereka selalu
dengan mudahnya berbicara tanpa memandang hati umi bi. Apa mereka sadar, betapa
rapuhnya umi ketika harus tersenyum palsu menghadapi kalimat mereka. Apa mereka
tahu, dibalik senyum itu, ada airmata yang tertahan sangat dalam.
Umi juga gagal menjadi seorang
ibu yang baik untuk anakmu bi. Umi tenggelam dalam perasaaan kesepian, hingga
umi kadang harus menjauhkan diri dari buah hati kita. Umi mudah lelah
menjaganya bi. Umi merasa gagal, ketika keluarga kita menuntut umi untuk selalu
mengerti buah hati kita. Ketika umi bahkan tak boleh untuk menghirup udara dan
menjaga kewarasan. Umi merasa menjadi ibu yang buruk, ketika mereka menanyakan
umi dimana, kenapa umi lama sekali pulang. Bahkan saat umi keluar untuk
membelikan susu dan peralatan mandi atau bahkan mainan buah hati kita, mereka
bilang itu lama bi. Satu jam, itu lama. Apa abi tau, betapa terburu-burunya umi
setiap berbelanja kebutuhan anak kita?.
Dan abi tau, apa yang paling
menyakitkan? Ketika ada banyak orang yang mengkritik, mengomentari, tapi mereka
tak membantu. Apa abi tau betapa inginnya umi pergi membawa mereka. Tinggal bersama
buah hati kita dengan bebas. Betapa lelahnya umi bi, ketika harus menggendong
anakmu yang ingin rewel karena ingin tidur, sementara susu belum dibuat.
Kecewanya bi, ketika bantuan itu bahkan membangunkan anak kita. Susu tak
sempurna, dan anak kita terbangun. Sempurna bi. Hanya bisa menarik dan
mengeluarkan nafas agar tak menjadi anak durhaka. Saat muara kasihku sendiri
tak bisa membantuku bahkan membuat susu anakmu, muaraku tak tahu takarannya bi.
Bisa abi bayangkan, betapa kesalnya umi ketika bersusah payah meninabobokkan
buah hati kita, tiba-tiba muaraku datang dan bercerita, mengacaukan mimpi indah
anakmu. Bahu umi tertunduk lesu bi.
Umi gagal menjadi seorang ibu
yang baik, dan gagal menjadi anak yang berbakti.
Umi ingin melangkah bi, ingin
keluar dari perasaan kegagalan ini. Berusaha kuat untuk keluar dari
ketidaknyamanan ini bi, tapi saat umi tersadar dengan perbuatan dan kalimat
mereka umi merasa sia-sia bi. Umi merasa hanya menyiksa diri ketika umi harus
seperti yang mereka katakan.
Bi, akankah umi menghianati cinta
abi ?
Salahkah umi jika nanti bertemu
seseorang yang dapat mengerti umi?
Akankah abi marah pada umi bi?
mereka semua, keluarga abi, keluarga umi, tetangga bahkan hingga orang yang sangat jauh dari umi, mengatakan jika umi harus memiliki suami baru lagi bi. mereka bahkan menjodohkan umi sesuka hati, menawarkan dan memasangkan umi dengan oranglain selayaknya barang. perih bi, perih teramat sangat untuk menerima perlakuan mereka.
Umi harus memasang penyumbat
telinga super dan membekukan hati bi, setiap umi mengatakan ‘cari suami baru’. Padahal
umi hanya butuh mereka paham, umi seorang wanita dewasa yang mampu memutuskan
kemana, bagaimana, dan mengapa umi pergi. Apakah hanya suami baru yang dapat
membebaskan umi dari jeratan mereka bi?
Teman umi bilang, kalau saatnya
umi mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah umi lakukan dalam hidup. Mencoba
terbiasa tanpa perhatian dan kasih sayang. Umi rasa, umi akan melakukan itu bi.
Umi tak ingin mencari bi, umi tak ingin hanya sekedar perhatian semu. Umi akan coba
untuk hidup kuat tanpa perhatian dan kasih sayang bi. Umi akan coba semampu
umi, hingga jika memang waktunya untuk umi kembali memiliki jodoh, umi harap
jodoh itu yang menemukan umi.
Umi harap, takdir allah yang
bekerja dengan semesta dan rangkaian doa yang baik. Salahkah bi, jika umi memilih
ini?. Yang allah takdirkan, akan datang sendiri tanpa umi cari kan bi? Tak perlu
umi merubah dan memaksakan diri, takdir itu akan membawakan seseorang yang
mampu memberikan sayang, menerima umi dan buah hatimu seutuhnya kan bi? Memahami
umi selayaknya wanita, selayaknya ratu yang berharga dalam hidupnya. Iyakan bi?
Umi hanya akan menanti bi. Jika cinta
itu, penggantimu itu memang ada. Dia akan datang dengan takdir allah. Jika tidak,
umi tau, allah akan berikan yang terbaik untuk umi.
Doakan istrimu untuk selalu kuat
bi. Doakan secepatnya agar anak istrimu bisa mandiri. Bisa bekerja sendiri,
memiliki rumah dan hidup menjalani bahagia dengan buah hatimu. Umi sudah tak
sabar untuk mendekor rumah umi sendiri bi. Menikmati setiap sudut keindahan di
rumah. Merasakan nafas yang nyaman setiap melihat sudut rumah. Umi menanti
waktu untuk mengajarkan buah hati kita dengan metode impian umi. Tanpa kritikan,
tanpa campur tangan, tanpa kacauan dari muara kasih dan tulang punggung kita
berdua.
Jujur, mereka terlalu ikut campur
bi. Membuat umi muak dan lelah dengan tuntutan tanpa pengertian. Doakan umi
kuat untuk menjalani hari berikutnya bi. Ada banyak cerita yang umi tak sempat
ceritakan pada abi. Hanya jeritan hati setiap kali yang berharap tersampaikan
dan terurai, tapi gagal. Doakan umi untuk tegar menata hidup ini. Doakan cita
dan impian umi tercapai bi. Dan untuk abi… abi selalu memiliki tempat
teristimewa, kebanggaan di hati ini. Terimakasih
untuk cinta yang tulus ini bi. Abi membuat umi mengerti bagaimana rasanya
dicintai. Terimakasih suami terbaikku.
Aku mencintaimu.
Kamar Adzra, Desember 20.