Laman

clock

Jumat, 11 Desember 2020

 

Hai bi,

Tenangkah disana bi?

Sudah beberapa hari ini umi ingin bercerita, tapi terkadang tubuh terasa lemas sekali untuk bergerak membuka laptop dan mengetik surat untukmu. Tenang saja, doa untuk abi selalu terpanjat baik disetiap lima waktu ataupun saat umi bersama adek, semoga pahala surat dan doa sampai ke abi ya bi.

Bi, beberapa hari ini umi ke rumah nenek setiap pagi sampai sore. Membantu hari, adin dan Julian mengerjakan ulangan. Abi tau rasanya kan mengajari mereka dengan ego remaja yang kadang susah nangkep. Umi banyak belajar dari mereka untuk bersabar bi. Hanya saja, umi merasa tidak nyaman dengan kalimat ntah cara hidup yang bagi umi tak sesuai. Terkadang umi juga disudutkan disana, dikritik tentang cara mengasuh adek yang tidak pake ayunan, bubur yang katanya tidak sesuai, dan banyak lainnya. Lelah terkadang bi. Andai saja ada abi, umi mungkin takkan selalu kesana untuk melepas penat. Iya bi, umi melepas penat disana, terkadang umi bisa baring disana, memainkan hp, atau mengerjakan tugas. Adek dijaga nekcu, ntah nekcik, ntah tokcik, ntah onti ataupun oom nya bi. Keramaian itu mampu membuat umi menghabiskan hari dengan lebih baik bi. Banyak cerita dan permainan yang dilakukan bersama disana. Meskipun umi harus menutup telinga untuk perkataan mereka yang menyakitkan, tapi tetap menyenangkan untuk umi disana.

Dirumah, umi lelah melihat rumah yang kacau balau. Mamak yang terus mengeluh, dan tak ada yang membantu umi menjaga adek. Menemani umi bercerita. Semua terasa melelahkan ketika dirumah bi. Ketika dari pagi umi harus dikejar waktu untuk memandikan adek, menyiapkan makan, menyuapi, mengajak bermain, baru kemudian tidur. Kemudian terus berulang berlanjut tanpa waktu untuk melegakan hati. Saat ada waktu untuk bersantai, itu dipenuhi dengan tuntutan dari mamak. Kadangkala walaupun tidak ada tuntutan, umi sendiri merasa bersalah, merasa tertekan melihat rumah berantakan, melihat mamak yang bekerja sendiri. Jujur bi, umi tak sanggup jika harus mengerjakan semuanya. Umi biarkan perasaan bersalah ini, perasaan tertekan ini bi. Umi durhaka ya bi?

Mamak selalu membandingkan masanya dengan masa umi. Sementara umi sendiri tahu, mamak tak pernah merawat anaknya full, karena banyak adik mamak yang membantu mengurusi semuanya. Umi sendiri lelah bi, karena sikap mamak yang tak pernah bisa membuat rumah rapi dan bersih. Sikap semua orang dirumah ini. Umi selalu berharap untuk lari dari rumah ini bi, agar umi tak membenci mamak. Agar umi dapat menyayangi dan merindukan mamak seperti dahulu. Umi tak ingin menjadi anak yang tak berbakti bi, namun umi juga tak sanggup menyesuaikan diri dengan mamak.

Umi ini persis seperti mamak. Emosi, dan keinginan selalu meledak. Umi hindari itu bi. Umi tak ingin hanyut dalam nafsu dunia yang membuat lelah jiwa. Umi ingin menjadi manusia yang lebih baik. Abi tau, umi seringkali mencari informasi dan bahkan ikut seminar agar kehidupan rumah tangga lebih baik. Agar umi dapat memanajemen waktu dan biaya. Doakan umi dapat selalu menerapkan aturan untuk diri umi ya bi.

umi merasa bersalah kepada mamak bi. Umi sadar diri umi yang sekarang sangat memberatkan mamak. Bolehkah umi bahagia dengan melihat mamak bahagia bi? Perih sekali hati umi melihat mamak tak bahagia bi, tapi sekali lagi, umi tak sanggup untuk mengikuti semua keinginan mamak bi. Umi hanya ingin mamak bersyukur dan menikmati hidup bi, tapi susah sekali untuk membuat mamak berhenti dengan keinginan-keinginan dan emosi masa tuanya. Susah sekali untuk membuat mamak bahagia tanpa harus membuat orang dirumah tertekan.

Abi tau, sekrang umi sangat lelah. Umi ingin banyak bercerita, tapi umi terlalu lelah. Umi lelah bi. Kita sambung lain kali ya bi. Tulang tangan ini terasa tak bertulang bi.

Sabtu, 05 Desember 2020

aku hari ini

 

Hai bi,

Hari ini umi dikirimkan foto rumah baru abi. Alhamdulillah sudah tersemen dengan baik bi. Abi tau, umi sebenarnya ingin rumah terakhir abi tidak perlu memakai semen, cukup menggunakan rerumputan agar setiap rumput itu bergoyang dan bertasbih, abi mendapat keberkahan dari tasbih tersebut. Bukankah abi selalu menyenangi Sunnah nabi? Dan umi coba lakukan bi. Tapi keinginan itu tinggal keinginan bi, umi pertimbangkan keadaan umak bapak yang sudah tua, sementara kami hanya bisa mengunjungi abi setahun sekali. Umi takut, nanti, kelak, tak ada yang merawat rumah abi. Umi takut rumah terakhir abi nanti sulit ditemukan anak cucu kita. Umi takut rumah abi malah menjadi semak belukar tak terawat.

Maafkanlah anak istrimu yang tak bisa merawat rumah terakhir abi setiap waktu bi. Maafkan kami bi. Abi tau, umi tak bisa tinggal diluar. Abi saja bahkan tak ingin tinggal disana, bagaimana mungkin umi bisa bertahan disana bi?.

Abi tau, hari ini umi menimbang buah hati kita. Timbangannya tetap tidak berubah dari bulan kemarin bi. Sedih hati umi bi. Pandangan mata orang disekitar, ucapan mamak, seakan menghujam bahwa itu kesalahan umi jika buah hatimu tidak naik timbangan bi. Andai abi disni, apa yang akan abi katakana ke umi bi? . abi pasti berkata, bukan tolak ukur kan bi? . umi akan mendebat abi dan bilang kalau tolak ukur kesehatan bisa dilihat dari timbangan. Umi akan menyalahkan diri sendiri, walau dengan dukungan abi.

Kenapa umi selalu menyalahkan diri sendiri bi?. Sepertinya sedari dulu setiap kali kita bercerita, sebagaimanapun abi menyemangati umi, umi selalu menyalahkan diri sendiri ya bi. Seperti hari ini, umi melihat banyak sekali kekurangan umi. Kegagalan umi. Kegagalan yang sebenarnya percuma untuk umi pikirkan. Perasaan tak berdaya, perasaan rentan, perasaan ditolak. Lalu kenapa? Umi pikir, tak masalah jika memang itu yang orang pikirkan. Tapi faktanya, umi tak tenang dengan perasaan tak berdaya itu bi. Umi resah. Umi pikir untuk membuktikan diri umi.

How bi? Pikiran yang sia-sia kan bi. Membuktikan diri sendiri untuk oranglain, tak akan menimbulkan kepuasan dan tidak akan membuktikan apapun selain perasaan hampa. Umi harus mencoba berdamai dengan perasaan untuk menghormati pilihannya. Umi harus berdamai dan lepas dari ketergantungan. Itu lebih baik yang harus umi tekankan.

Membuktikan diri sendiri pada oranglain yang bahkan tak memahami dan tak bersama umi 1x24jam. Untuk apa?. Bukankah yang menyukai umi tak butuh pembuktian betapa berkualitasnya umi? Dan yang membenci umi juga takkan merubah penilaiannya. Biarkan mereka berpikir dan umi yang harus berhenti mengharapkan mereka. Begitu kan bi?

Doakan istrimu untuk lepas dari jeratan ketergantungan terhadap mereka bi. Umi mungkin belum menemukan tempat bersandar untuk bisa lepas dari ketergantungan terhadap mereka, tapi umi akan coba untuk berdiri di kaki ini bi. Sampai akhirnya umi dapat menumpahkan semua perasaan ini, di waktu yang tepat dengan orang yang tepat.

Jumat, 04 Desember 2020

surat untuk suamiku

 


Assalamualaikum abi adzra..

Bagaimana kabarmu disana?

Semoga tenang disana, suami terbaikku.

Sembilan bulan sudah abi pergi meninggalkan umi dan adek di dunia ini. Semuanya berjalan sangat lambat dan sangat buruk tanpa abi. Kali ini, umi harus menanggung semua beban sendiri bi. Terasa amat menyakitkan tanpa abi. Menghadapi keluarga umi, keluarga abi, seorang diri. Menjawab, meladeni segala pernyataan dan pertanyaan yang seolah tak habis. Pertanyaan mereka serasa seperti jarum yang menusuk perlahan bi. Andai kamu lihat, akankah kamu menangis melihat istrimu bi? Istrimu rapuh serapuh rapuhnya. Lelah selelah-lelahnya bi. Merindukanmu tanpa henti. Merindukan kasih sayang cintamu bi.

Abi tau, betapa umi sangat berterimakasih untuk kedua orangtua kita?, semua itu kini perlahan pudar bi. Andai abi lihat, akankah abi marah kepada mereka bi? Mereka memojokkan, menyudutkan umi, bahkan hingga ingin memisahkan anak istrimu bi. Adilkah bi, tegakah abi melihat istri tercintamu ini ingin dipisahkan dengan anak terkasihmu?. Penghormatan, kasih sayang, itu pudar bi. Akankah abi akan meminta umi untuk terus bertahan menyayangi mereka bi? Mencoba menyayangi mereka terus menerus tanpa henti.

Abi tau, muara kasih yang umi bangga-banggakan perlahan harus terkikis dengan lelah yang berpanjangan bi. Hancur oleh perasaan mengalah. Umi ingin berkata kasar kepada muara kasih abi, tapi umi tahan untuk abi. Umi ingin berteriak kepada muara kasih umi, tapi umi pikir itu hanya membuat umi menjadi anak durhaka. Untuk tulang punggung yang menghidupi kita sedari kecil, umi kalah bi. Umi harus tersenyum, harus menerima perkataan mereka yang menyakitkan telinga.

Tak ada lagi yang memberikan umi pelukan bi. Tak ada pelukan. Abi tau rasanya? Umi ingin bersandar. Ingin menangis sekuat hati dalam sebuah pelukan. Melepas penat yang berat di bahu ini. Tapi tak ada yang mampu memeluk umi. Tak ada  bahu untuk bersandar. Abi tau, yang kata mereka cinta pertama? Cinta pertama umi, tak mampu memberikan pelukan yang umi inginkan. Bahkan pelukan itu tidak bertahan 5 detik. Saat umi bahkan belum mengucapkan, belum selesai menumpahkan airmata. Pelukan itu usai. Usai bi……………….

Hingga umi terhenyak. Dimana pelukan itu? Ketika muara kasih dan tulang punggung tak dapat membalas pelukan yang umi butuhkan. Hanya abi, tulang rusuk yang memberikan umi kasih sayang seutuhnya. Tak ada lagi kini, tangan lembut yang mengelus kepala umi setiap malam, yang mengelus mesra mengisi perasaan cinta di hati ini. Tak ada lagi, bahu hangat untuk umi menumpahkan rasa kesal, sedih, amarah. Tak ada lagi tangan lembut yang mengusap airmata umi.

Yang ada sekarang tersisa tekanan. Kalimat-kalimat tajam yang mereka lontarkan. Kenapa mereka selalu dengan mudahnya berbicara tanpa memandang hati umi bi. Apa mereka sadar, betapa rapuhnya umi ketika harus tersenyum palsu menghadapi kalimat mereka. Apa mereka tahu, dibalik senyum itu, ada airmata yang tertahan sangat dalam.

Umi juga gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk anakmu bi. Umi tenggelam dalam perasaaan kesepian, hingga umi kadang harus menjauhkan diri dari buah hati kita. Umi mudah lelah menjaganya bi. Umi merasa gagal, ketika keluarga kita menuntut umi untuk selalu mengerti buah hati kita. Ketika umi bahkan tak boleh untuk menghirup udara dan menjaga kewarasan. Umi merasa menjadi ibu yang buruk, ketika mereka menanyakan umi dimana, kenapa umi lama sekali pulang. Bahkan saat umi keluar untuk membelikan susu dan peralatan mandi atau bahkan mainan buah hati kita, mereka bilang itu lama bi. Satu jam, itu lama. Apa abi tau, betapa terburu-burunya umi setiap berbelanja kebutuhan anak kita?.

Dan abi tau, apa yang paling menyakitkan? Ketika ada banyak orang yang mengkritik, mengomentari, tapi mereka tak membantu. Apa abi tau betapa inginnya umi pergi membawa mereka. Tinggal bersama buah hati kita dengan bebas. Betapa lelahnya umi bi, ketika harus menggendong anakmu yang ingin rewel karena ingin tidur, sementara susu belum dibuat. Kecewanya bi, ketika bantuan itu bahkan membangunkan anak kita. Susu tak sempurna, dan anak kita terbangun. Sempurna bi. Hanya bisa menarik dan mengeluarkan nafas agar tak menjadi anak durhaka. Saat muara kasihku sendiri tak bisa membantuku bahkan membuat susu anakmu, muaraku tak tahu takarannya bi. Bisa abi bayangkan, betapa kesalnya umi ketika bersusah payah meninabobokkan buah hati kita, tiba-tiba muaraku datang dan bercerita, mengacaukan mimpi indah anakmu. Bahu umi tertunduk lesu bi.

Umi gagal menjadi seorang ibu yang baik, dan gagal menjadi anak yang berbakti.

Umi ingin melangkah bi, ingin keluar dari perasaan kegagalan ini. Berusaha kuat untuk keluar dari ketidaknyamanan ini bi, tapi saat umi tersadar dengan perbuatan dan kalimat mereka umi merasa sia-sia bi. Umi merasa hanya menyiksa diri ketika umi harus seperti yang mereka katakan.

Bi, akankah umi menghianati cinta abi ?

Salahkah umi jika nanti bertemu seseorang yang dapat mengerti umi?

Akankah abi marah pada umi bi?

mereka semua, keluarga abi, keluarga umi, tetangga bahkan hingga orang yang sangat jauh dari umi, mengatakan jika umi harus memiliki suami baru lagi bi. mereka bahkan menjodohkan umi sesuka hati, menawarkan dan memasangkan umi dengan oranglain selayaknya barang. perih bi, perih teramat sangat untuk menerima perlakuan mereka. 

Umi harus memasang penyumbat telinga super dan membekukan hati bi, setiap umi mengatakan ‘cari suami baru’. Padahal umi hanya butuh mereka paham, umi seorang wanita dewasa yang mampu memutuskan kemana, bagaimana, dan mengapa umi pergi. Apakah hanya suami baru yang dapat membebaskan umi dari jeratan mereka bi?

Teman umi bilang, kalau saatnya umi mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah umi lakukan dalam hidup. Mencoba terbiasa tanpa perhatian dan kasih sayang. Umi rasa, umi akan melakukan itu bi. Umi tak ingin mencari bi, umi tak ingin hanya sekedar perhatian semu. Umi akan coba untuk hidup kuat tanpa perhatian dan kasih sayang bi. Umi akan coba semampu umi, hingga jika memang waktunya untuk umi kembali memiliki jodoh, umi harap jodoh itu yang menemukan umi.

Umi harap, takdir allah yang bekerja dengan semesta dan rangkaian doa yang baik. Salahkah bi, jika umi memilih ini?. Yang allah takdirkan, akan datang sendiri tanpa umi cari kan bi? Tak perlu umi merubah dan memaksakan diri, takdir itu akan membawakan seseorang yang mampu memberikan sayang, menerima umi dan buah hatimu seutuhnya kan bi? Memahami umi selayaknya wanita, selayaknya ratu yang berharga dalam hidupnya. Iyakan bi?

Umi hanya akan menanti bi. Jika cinta itu, penggantimu itu memang ada. Dia akan datang dengan takdir allah. Jika tidak, umi tau, allah akan berikan yang terbaik untuk umi.

Doakan istrimu untuk selalu kuat bi. Doakan secepatnya agar anak istrimu bisa mandiri. Bisa bekerja sendiri, memiliki rumah dan hidup menjalani bahagia dengan buah hatimu. Umi sudah tak sabar untuk mendekor rumah umi sendiri bi. Menikmati setiap sudut keindahan di rumah. Merasakan nafas yang nyaman setiap melihat sudut rumah. Umi menanti waktu untuk mengajarkan buah hati kita dengan metode impian umi. Tanpa kritikan, tanpa campur tangan, tanpa kacauan dari muara kasih dan tulang punggung kita berdua.

Jujur, mereka terlalu ikut campur bi. Membuat umi muak dan lelah dengan tuntutan tanpa pengertian. Doakan umi kuat untuk menjalani hari berikutnya bi. Ada banyak cerita yang umi tak sempat ceritakan pada abi. Hanya jeritan hati setiap kali yang berharap tersampaikan dan terurai, tapi gagal. Doakan umi untuk tegar menata hidup ini. Doakan cita dan impian umi tercapai bi. Dan untuk abi… abi selalu memiliki tempat teristimewa,  kebanggaan di hati ini. Terimakasih untuk cinta yang tulus ini bi. Abi membuat umi mengerti bagaimana rasanya dicintai. Terimakasih suami terbaikku.

Aku mencintaimu.

Kamar Adzra, Desember 20.

Sabtu, 27 Juni 2020

HAI DUNIA



hai dunia.....
apa kabarnya hari ini?
hari ini aku masih tertatih untuk berdiri,
masih sibuk menata hati yang terus tergoncang ke sana kemari.
setiap harinya, aku masih menantikan bayang itu kembali.
menyapa, memeluk dan membelai diri yang sangat rapuh ini.
aku masih menanti untuk bercerita dan bersandar di bahunya.
menatap punggungnya di setiap sholatku.
aku tahu ini sia-sia, tapi aku lebih menyukai diriku yang menantinya.
dengan menantinya, aku bisa lebih hidup.
bisa merasakan teriknya matahari dan dinginnya air hujan.
dengan mengharapnya, aku bisa tersenyum.
aku masih tertatih disini dengan kekuatan itu.
dengan bantuan tangan kecil alfatih el adzra, aku mencoba bangkit.
tapi itu masih sulit untuk hatiku raba. aku masih merangkak untuk beradaptasi dengan dunia.
dunia yang perlahan terasa semakin kejam tanpa kehadirannya. Dunia yang semakin mencekik dalam merajut asa. Dunia yang terasa mematikan dalam ketidakberdayaan.
dunia tanpa dia, terasa sangat gelap.
dan aku masih berdiri disini.
merintih dalam sepi
bersama bayangan suamiku
Ozi Agustra