surat cinta untuk calon suamiku
Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama
kali ingin aku sampaikan. Satu hal yang aku ingin agar kamu tahu, paham, dan
selalu ingat. Bahwa aku, tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa memahamimu
hanya jika kamu menunjukkan kepadaku apa yang harus aku pahami. Kita berdua
dahulunya orang yang saling tidak mengenal bukan? Jika suatu hari aku belum
paham tentang jalan pikiranmu, perasaanmu, persepsimu terhadap sesuatu,
keinginanmu. Tolong bersabar, pemahaman butuh waktu. Jika kau bersabar, aku
akan setia belajar.
Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai isterimu, satu hal yang aku minta
kepadamu. Support, dukungan, motivasi, sudut pandang positif,
afeksi. Apapun itu istilahnya. Yang aku inginkan bahwa kamu paham, aku juga
manusia biasa yang kadang lemah, kadang murung, bad mood, down,
kecewa, putus asa, kadang bisa kesal dan marah. Dan jika itu terjadi, aku ingin
kau selalu hadir disisiku. Nyata ataupun maya. Membantu memperbaiki moodku,
meluruskan niatku, memotivasi jiwaku, meredakan amarahku, menerangi
kebingunganku. Sekecil apapun itu, aku akan sangat berterima kasih.
Jika suatu hari nanti kamu menemukanku sebagai isterimu, jangan pernah
mengatakan ‘kamu kan psikolog!, harusnya…”. Aku tahu tentang
perkembangan manusia, perkembangan yang berakibat baik dan buruk. Jika
perkembangan itu dimulai dari masa dewasa, masa ketika aku kuliah Psikologi.
Maka aku yakin aku bisa menjadi manusia yang sempurna untukmu. Tetapi sayang,
perkembangan manusia itu dimulai dari sejak kita bayi. Tentu aku mengalami
masa-masa buruk, masa-masa yang tidak terlalu mendukung perkembanganku.
Masa-masa yang kadang traumatis dan menyedihkan. Masa-masa yang
menyisakan unfinish business dan memberi bekas padaku
hingga saat ini. Jangan pernah katakan ya?
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu. Maukah kau mendengarkan
konsep-konsep kehidupan berumah tangga yang aku pelajari dan aku pahami?
Mendengarkan saja dulu. Tentang komunikasi yang akan kita terapkan, tentang
fungsi dan peran masing-masing diri dalam rumah tangga, tentang aturan-aturan
yang harus kita jaga dan patuhi. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita
mengkonsep dalam mendidik anak. Tentu aku punya pertimbangan secara psikologis
dalam semua hal itu. Untuk itu aku membutuhkanmu untuk mendengarkan. Karena aku
paham, yang menjalani rumah tangga ini bukan aku, tapi kita. Pun ketika kamu
memiliki konsep konsep yang lain, aku sangat mau untuk mendengarkannya.
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu nanti. Tolong jangan
terganggu dengan orang-orang yang senang curhat kepadaku. Mereka yang menelpon
tengah malam, yang tiba-tiba datang kerumah. Diantara mereka ada yang mungkin
klien yang tidak aku kenal. Namun, diantara mereka mungkin juga
teman-temanku sendiri. Diantara mereka, ada yang perempuan juga ada laki-laki.
Untuk kau tahu, jika dalam dunia psikologi ada kode etik yang tidak boleh
mencampurkan urusan pribadi dengan masalah klien, tetapi jika klien itu teman
sendiri? Atau teman sendiri yang tidak mendaftar resmi sebagai klien tetapi
meminta nasihat sebagai teman yang kebetulan psikolog? Maka tolong
bersabar, jangan terganggu. Aku ingin kamu selalu ada disitu, untuk selalu
mengingatkanku.
Jika suatu hari kamu menemukanku sebagai isterimu. Bolehkah aku tinggal
dirumah saja? Mendirikan biro konsultasi dengan klien yang sangat terbatas sebagai
janji profesiku, karena Aku ingin selalu hadir dalam setiap perkembangan
anak-anak kita. Aku ingin selalu ikut campur dalam mengajari moral, emosi,
sosial dan intelektual. Bolehkah aku menjadi guru utama anak-anak
kita? Maksudku, mungkin ini sedikit ekstrim. Bolehkan anak-anak kita sekolah di
rumah saja? Bersamaku? Jika nanti anak-anak kita berontak dan ingin bersekolah
bersama teman-temannya, bisa kita pertimbangkan bukan untuk menyerahkan seluruh
perkembangan anak ke lembaga sekolah, tapi hanya untuk perkembangan sosial
saja. Aku tidak terlalu berhasrat memiliki anak brilian. Sorry for that.
Aku sangat berhasrat agar anak kita memiliki kematangan emosi dan pertimbangan
moral yang baik. Aku sudah mempelajari caranya, itu bisa dilatih. Tentu dengan dukungan
dan restumu. Jika nanti anak kita tumbuh brilian, itu adalah bonus dari Allah.
Jika kamu menemukanku sebagai isterimu, ketika kita memiliki anak-anak
kecil dan remaja, bolehkan kita tinggal di pinggir kota saja? Tidak masalah
tinggal di tempat seperti apa. Kota, bagiku tidak baik untuk perkembangan
sosial anak kita.
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu, aku ingin kita selalu
memiliki waktu, untuk saling memeluk dan diam untuk beberapa saat. Agar aku
selalu merasakan keberadaanmu, kaupun selalu merasakan keberadaanku. Dan
merasakan detak jantung kita menjadi satu.
psikolog juga manusia
salam hangat..
istrimu...
masih sampai hari ini.. jika..........
BalasHapus