Laman

clock

Selasa, 13 Februari 2024

 aku mengadu pikiran dan perasaan

ntah harus berjuang disini, 

ataukah pergi jauh dri kota yang kutinggali saat ini. 

aku lelah berada di tengah semua ini. 

aku tersiksa disepikan oleh keadaan begini

aku hancur dan melebur tanpa satupun sosok yang bertanya, bagaimana kabarmu.

aku lelah berada disini dengan semua urusan keluarga ini. 


dekat dengan keluarga hanya membuatku letih semakin hari

ada banyak urusan mereka yang tak sanggup lagi hati ini hadapi

terlalu sulit untukku bersama lagi

terlalu kecewa hati ini atas semua siksa yang diberi


Terlalu banyak aku menyepi dan berpikir

niatku telah kalah. 

sejauh mana aku melangkah, 

hanya ingin menyudahi siksaan yg bagai neraka

Senin, 12 Februari 2024

Tidur

 Pagi ini, aku bertemu denganmu kembali. 

Setelah sekian lama engkau tak muncul di dalam mimpi ini. Senyumanmu masih sama, tak ada paksaan ataupun tatapan tajam untukku. Kehadiranmu membuatku enggan untuk membuka mata. Saat tubuhku bereaksi terhadap matahari yang beranjak naik, aku menarik selimut untuk kembali memejamkan mata dan berharap dapat melanjutkan kisah bersamamu, walaupun hanya dalam mimpi. 

jikalau bisa, aku bahkan tak ingin membuka mata kembali. aku ingin larut dalam mimpi dan hidup bersamamu. 

disini terlalu sakit, terlalu menyiksa. 

surgaku berubah menjadi neraka, atau justru aku yang menjadi neraka untuk surga. 

aku tak mencuri, aku tak berzina, aku tak memukul orang, aku tak minum minuman keras, aku tak melacur, aku tak memaki ataupun menghina orang yang lebih tua. 

Sekuat hatiku mengabulkan semua keinginan surgaku, mentaati, mengiyakan, semuanya...

Tak mau ku menimbulkan rasa kecewa untuk mereka. 

waktu, tenaga, materi, semua terasa habis kucurahkan untuk melayani keluarga besar. Terasa seperti Pengabdian. Rasa iba yang tertanam karena rayuan dari surgaku, tak perduli menghabiskan seberapa besar energi dan materi yang kumiliki. tapi nyatanya itu semua tak pernah cukup untuk menjadikanku sebagai anak yang berbakti. 

semua itu tak cukup untuk menunjukkan keberhasilanku sebagai anak. 

aku dibenci, aku dijauhi, aku disiksa, aku dianggap tak ada karena aku dianggap tak sopan saat meminta orangtuaku untuk tak mencampuri caraku mendidik anak. 

aku yang tak mencuri, tak melacur, tak berzina, tak berjudi, dihakimi seolah aku adalah anak yang paling buruk. Bahkan keluarga besar yang ku urusi, yang anaknya mencuri, yang anaknya berzina, yang anaknya tak bisa apapun, tak mendapat hukuman seberat ini dari orangtuanya. 

kenapa aku, yang bahkan hanya mengungkapkan perasaan dan rasa marah, justru mendapatkan hukuman yang jauh lebih buruk dari mereka. kenapa justru aku yang mendapat label anak yang tak dapat diurus, kenapa justru aku. 

aku bahkan tak tau harus berkata pada siapa, harus bergantung pada siapa. 

aku hanya sendiri, 

kupikir, saat kepergianmu adalah masalah terberat untukku, tapi nyatanya aku salah. Menjalani hari setelah kepergianmu adalah ujian yang paling berat untukku. 

iya, 

masalah paling berat bukan saat suamiku pergi. tapi masalah paling berat adalah menghadapi hari setelah kepergian suami. 

jangan tanya aku bagaimana saat ini, aku terlalu hancur karena surgaku sendiri. 

aku ingin terlelap dan bertemu suamiku lagi dalam mimpi

aku tak ingin membuka mata dan merasakan sakit ini lagi

Minggu, 11 Februari 2024

SIKSA

Aku masih manusia
yang membutuhkan kasih sayang dan pelukan. 
dua minggu sudah ku lalui tanpa tutur kata dari sosok yang kupanggil emak. 
hingga mentalku semakin tidak baikbaik saja. 
aku semakin terjatuh dan terpuruk menanggung semuanya sendiri. 
semakin hari, aku semakin tersiksa. 
berbagai pikiran untuk pergi dari dunia ini terlintas dan mengendap dalam pikiranku. 
mungkin, jika aku pergi, sosok yang kupanggil emak baru akan mengerti. 
mungkin, jika aku jauh, sosok yang kupanggil emak takkan lagi menyiksa anaknya dengan perang beku.
mungkin, jika aku mati, sosok yang kupanggil emak baru menyadari lelahnya hati ini. 
tapi apakah semuanya harus begini, 
satusatunya hal yang membuatku untuk berpikir jernih hanya sosok kecil ini. 
yang membuatku berat untuk meninggalkan dunia ini untuknya seorang diri. 
kadangkala aku berpikir, haruskah aku membawanya untuk mati. 

aku sedang bertarung sekarang, meyakinkan pikiran dan hati, untuk pergi jauh dari sini ketimbang mati. 
aku meyakinkan diri sekarang, untuk tidak menjadi sosok ibu yang menyiksa batin dan hati.
tak akan aku gunakan rantai siksa yang diciptakan oleh sosok ibu untuk menekan perasaan anaknya. 
karena rantai yang tercipta sungguh bisa mengalirkan darah nyata