Laman

clock

Jumat, 07 April 2023

nerimo

 hari ini, bukan... lebih tepatnya pagi ini. Aku tak bisa lagi memejamkan mataku dan terlelap bermimpi indah setelah subuh. Ntah mengapa, saat aku memejamkan mataku. Aku terbayangkan saat diriku melangkah maju kedepan dan memiliki pasangan baru. 

mungkin, karena semalam aku membayangkan menyenangkannya saat bersamamu. 

Kamu yang memilihku tanpa aku harus berusaha keras. 

kamu yang mengertiku tanpa harus aku bertekad urat. 

kamu yang memahamiku tanpa paksaan untukku menjadi sempurna.

kamu yang meratukanku dan memilihku diatas segalanya. 

aku terkenang, dimasa dimana kamu memperjuangkanku. Menikahiku dengan banyaknya rintangan dari keluargamu. Membelaku saat aku merasa tersakiti dengan keluargamu. 

kamu, yang memilih untuk KB alami, karena melihat banyaknya efek samping jika menggunakan KB yang biasanya. kamu yang berkata "dahlah mi, nanti malah efek sampingny gini..biso jugo jadi gini... bla bla bla" . padahal aku hanya berkata " bi, gek kito KB cakmano, kalo pil tu gek gendutan, item, jerawatan, menstruasiny jugo galak kalahan kalo suntik spiral itu caknyo sakit ye". Dan jawaban yang kuterima membuatku merasa tenang dan tersenyum. 

aku mengenang itu sepanjang malam. membayangkan kamu yang memelukku menjalani hari kita dengan amat santai. yah, santai..karena kamu selalu menerima masakanku apadanya. Menerima manjaku dengan pelukan hangat seakan aku adalah pusat dari kebahagiaanmu.

lantas aku merenung, apakah aku bisa menemukan sosok yang lebih darimu ? dan aku kemudian terlelap.

Tanpa dikomando, saat aku akan memejamkan mataku subuh ini. Tanpa permisi, pikiran aku bersama dengan pasangan baru memenuhi otakku. Apa yang harus kulakukan dengan KB?. bagaimana jika aku hamil? apakah aku akan menjalani kehamilanku dengan baik? bagaimana saat aku melahirkan? apakah aku akan kehilangan lagi?. tidak, aku akan berkonsultasi ke psikolog. Aku menangis menumpahkan ketakutanku kepada psikolog, menelan ludah dan merasakan berat yang amat luar biasa di tengkukku. tiba-tiba aku berada di ruang operasi, aku menangis mengucapkan selamat tinggal pada sosok yang aku sendiri tidak tau itu siapa. Aku menangis ketakutan harus meninggalkan adzra. aku berpikir siapa yang harus merawat adzra. siapa yang lebih tepat membimbing adzra. yayah kak is kah? atau abi yanza? tapi abi yanza sudah punya 3 putri, aku takut yuk dina keberatan. aku lebih yakin pada yayah kak is, tapi untuk ilmu agama bagaimana?. 

pikiran itu menakutiku hingga aku tak bisa memejamkan mataku. Lalu, aku tersadar. aku menginginkan orang yang bisa berada disisiku tanpa tuntutan. Meyakinkanku. Lalu aku berpikir, jika orangnya seperti kamu yang berada disisiku, kamu pasti akan berkata sambil memelukku yang menangis frustasi dengan erat. " sudah, dak apo-apo kito dak usah ado adek sampe umi siap. kalo umi dak siap yo sudah dak apo2, abi jugo dak galak kehilangan umi. Sudah kito be2 dengan adzra be sudah yo. " 

wkwkwkw, aku tau, kalimat itu benar-benar akan kamu ucapkan. Dan setiap kali aku membahas soal anak, kamu akan memelukku dengan gusar. meyakinkanku bahwa kamu sungguh menerimaku meskipun tanpa adanya anak keturunanmu. tapi tentu saja aku yang merasa bersalah kepadamu takkan semudah itu melepas penyesalanku. 

seiringnya waktu, ah entahlah. aku tak bisa menuliskan hal yang akan terjadi kedepan. 

yang jelas. aku ketakutan. terutama jika aku meninggalkan adzra di dunia ini. Kuharap para neneknya mengerti dan memahami aku ingin adzra dibesarkan oleh orangtuanya. Bukan nenek-kakeknya. aku sungguh TAK INGIN. TAK SUKA. TAK MAU. jika adzra dibesarkan kakek-neneknya. aku ingin dia dibesarkan oleh orangtuanya, dan aku memilih yayah kak is untuk membesarkannya.

Sebenarnya, Aku sungguh tak ingin merasa tertekan dengan semua pikiran yang rumit ini. 

ku harap aku panjang umur, sehat lahir dan batin, berkemampuan, berkecukupan dan berkekuatan sehingga aku bisa merawat dan menemani alfatih el adzra dalam keadaan sehat walafiat hingga ia memiliki anak istri. aaamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar