Laman

clock

Kamis, 28 Desember 2023

jika aku melangkah dengan menutup mata, 

akankah sesak ini tak lagi ada, 

aku takut. jika sesak ini tergantikan dengan kesesakan yang jauh lebih menyesakkan. 

aku takut, ujian ini diganti lagi dengan ujian yang lain yang ntah bagaimana ujian itu berakhir. 

aku takut. 

aku ingin semuanya baik-baik saja.

Tolong.

 aku...

berusaha untuk melangkah ke depan

menata hidup membuka lembaran baru. 

tapi, aku tak bisa mengenangmu dengan senyuman

semua tentangmu selalu berakhir dengan airmata dan kesakitan.  

bahkan aku yang sekarang tak ingin lagi mengenangmu

rasanya terlalu menyesakkan

karena aku tak lagi sanggup merindu dan menanggung pilu. 

ajari aku, untuk bisa melangkah darimu. 

Selasa, 08 Agustus 2023

Tunggal

 bi, satu bulan ini rasanya menyesakkan. 

mungkin, aku lelah tertawa diantara banyak keramaian. aku merindukan keheningan. melepas semua penat yang sedari 2 bulan terakhir menghampiri. 

adek dea menikah bi. adek menikah dengan seorang pria yang memiliki kemiripan 50% dengan dirimu. Tentunya masih ganteng dirimu bi. heheheh, abi lebih tampan, lebih menarik, dan yah sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkan ketampanan abi. hehehe. 

masalahnya bukan terletak dari kemiripan pria itu dengan abi. Masalahnya, ada pada diri ini yang masih saja berduka. aku merasa tak pantas untuk bahagia. sedari abi pergi, diri ini merasakan patah hati yang terhebat. merasa bingung, lelah harus bersikap pada semua orang. diri ini merasa sedih karena hanya seorang diri. semuanya sudah tergambarkan dan bahkan diri ini sudah mencoba terapi selama 2 bulan terakhir untuk menghadapi masa ini. 

sedari abi pergi, diri ini menguatkan diri untuk menjalani kenyataan ketika adek dea menikah. tergambar dengan jelas. semuanya berfoto, bersama pasangan. diri ini berusaha tegar bersama buah hati. semuanya bernyanyi berjoget, diri ini ingin melarikan diri. beraat sekali rasanya untuk tertawa berjoget bersama. tapi diri ini selalu memaksa untuk bersikap seolah semuanya baik-baik saja. bahkan perasaan sedih dari orangtua abi tergambar jelas, dan semakin menambah perasaan bahwa diri ini tak berhak bahagia. ya, kesalahan dari pikiran diri ini. bahwa kehilangan yang mereka rasakan adalah tanggungjawab yang harus kupikul sampai akhir. 

dan, adek dea menikah di hari dan waktu yang sama dengan kita. 14.07.2023 , 15072023, 16072023. diri ini berharap, pernikahan mereka bahagia, langgeng, menua sampai tua bersama. cukuplah diri ini yang merasakan pedihnya belahan hati. jangan sampai keluarga yang lain mengalami perpisahan dini seperti diri ini. 

diri ini berharap, ada yang memuji kecantikan diri yang bermakeup, sama seperti abi memuji umi dihari pertama kita berias. yah, kenangan indah disaat pernikahan kita melintas tanpa bisa di hentikan. diri ini memaksakan diri tertawa, berbahagia, tersenyum. tapi kekosongan hati ini tak bisa memungkiri.  sedari hari rabu hingga minggu. selalu saat jam 2 malam, diri ini menangisi kesendirian kehampaan tanpa abi. 

minggu acara resepsi, diri ini tetap ikut berjoget dan bernyanyi untuk meramaikan pernikahan adek. abi tau, lelehan air mata jatuh tanpa bisa ditahan, dan luar biasa sekali, diri ini tertawa sambil terus menggerakkan badan berjoget. 

setelah semua itu, diri yang ingin diakui ini. sibuk menemani keluarga palembang dan keluarga pagaralam jalan-jalan. memberi adek dan mamak untuk bantu pernikahan adek, dan entahlah sukar untuk dikatakan berapa banyak materi yang habis. hingga akhirnya, diri ini ditengah sakit memaksakan untuk menerima pekerjaan. tanpa henti, hampir satu bulan ini diri ini keluar kota, mengais rezeki untuk bisa mengabulkan keinginan-keinginan diri. ntahlah. sungguh diri ini memaksakan diri hingga rasanya sudah di akhir batas. 

september nanti akan pergi ke pagaralam. sungguh, otak ini sulit berpikir, kemana lagi akan mencari uang. aah sudahlah, bahkan diri ini tak mampu lagi mengetik pekerjaan yang harus dijalani selama sminggu ini. sungguh sudah amat sangat banyak dan menumpuk. 

sampai akhrinya kemarin diperjalanan pulang bekerja. diri ini berhenti dan menangis tanpa bisa dihentikan. lelah menjadi orangtua tunggal, lelah bekerja, lelah harus mengikuti ritme kehidupan. lelah dengan diri ini yang ingin selalu bersikap baik pada semua orang. lelah, lelah, lelah dan lelah. 

Selasa, 18 April 2023

belum siap kehilangan

Ternyata belum siap aku

kehilangan dirimu

belum sanggup untuk jauh darimu

yang masih selalu ada dalam hatiku...

selalu teringat akan cinta yang dulu dihidupku. 


malam ini, anakmu tiba-tiba berkata sambil menangis. 

bocah cerdas yang berusia tiga tahun satu bulan, dengan kepekaan dan kasih sayang yang luar biasa itu, menutup matanya dan berkata dengan suara tertahan. 

"umi, akak sedih.. akak kehilangan abi, akak tidak ada abi". 

kalimat yang menghujam jantungku dengan begitu cepat hingga nafasku terasa sesak. 

aku mencoba untuk mengeluarkan emosinya dan membuatnya lebih baik. 

tapi jawaban dari mulut mungil yang lincah itu selalu memaksaku untuk lebih tegar. 

" abi di surga, tidak bisa kerumah akak".

"akak mau ketemu abi, tapi abi di surga di tanah coklat"

"gali saja kubur abi mi, pake sekop biar akak senang"

"abi disurga tidak bisa naik motor datang kerumah akak"


sepertinya, dia ingat saaat masih dalam kandungan.. kami selalu menunggu bunyi deru motor abi "kodrat" untuk sampai dirumah. 

aku tak mampu lagi bertanya. 

sambil menahan panasnya sudut mataku, aku mengajak anakmu mengirimkan doa. 

berharap kamu sudi datang memeluk anakmu walau sekedar dalam mimpi

berharap kamu naik motor dan membahagiakan anakmu dalam mimpi

tolong bi, datang dalam mimpi anakmu

berikan ia sosokmu, walau hanya dalam mimpi

kami merindukanmu bi. 

Jumat, 07 April 2023

nerimo

 hari ini, bukan... lebih tepatnya pagi ini. Aku tak bisa lagi memejamkan mataku dan terlelap bermimpi indah setelah subuh. Ntah mengapa, saat aku memejamkan mataku. Aku terbayangkan saat diriku melangkah maju kedepan dan memiliki pasangan baru. 

mungkin, karena semalam aku membayangkan menyenangkannya saat bersamamu. 

Kamu yang memilihku tanpa aku harus berusaha keras. 

kamu yang mengertiku tanpa harus aku bertekad urat. 

kamu yang memahamiku tanpa paksaan untukku menjadi sempurna.

kamu yang meratukanku dan memilihku diatas segalanya. 

aku terkenang, dimasa dimana kamu memperjuangkanku. Menikahiku dengan banyaknya rintangan dari keluargamu. Membelaku saat aku merasa tersakiti dengan keluargamu. 

kamu, yang memilih untuk KB alami, karena melihat banyaknya efek samping jika menggunakan KB yang biasanya. kamu yang berkata "dahlah mi, nanti malah efek sampingny gini..biso jugo jadi gini... bla bla bla" . padahal aku hanya berkata " bi, gek kito KB cakmano, kalo pil tu gek gendutan, item, jerawatan, menstruasiny jugo galak kalahan kalo suntik spiral itu caknyo sakit ye". Dan jawaban yang kuterima membuatku merasa tenang dan tersenyum. 

aku mengenang itu sepanjang malam. membayangkan kamu yang memelukku menjalani hari kita dengan amat santai. yah, santai..karena kamu selalu menerima masakanku apadanya. Menerima manjaku dengan pelukan hangat seakan aku adalah pusat dari kebahagiaanmu.

lantas aku merenung, apakah aku bisa menemukan sosok yang lebih darimu ? dan aku kemudian terlelap.

Tanpa dikomando, saat aku akan memejamkan mataku subuh ini. Tanpa permisi, pikiran aku bersama dengan pasangan baru memenuhi otakku. Apa yang harus kulakukan dengan KB?. bagaimana jika aku hamil? apakah aku akan menjalani kehamilanku dengan baik? bagaimana saat aku melahirkan? apakah aku akan kehilangan lagi?. tidak, aku akan berkonsultasi ke psikolog. Aku menangis menumpahkan ketakutanku kepada psikolog, menelan ludah dan merasakan berat yang amat luar biasa di tengkukku. tiba-tiba aku berada di ruang operasi, aku menangis mengucapkan selamat tinggal pada sosok yang aku sendiri tidak tau itu siapa. Aku menangis ketakutan harus meninggalkan adzra. aku berpikir siapa yang harus merawat adzra. siapa yang lebih tepat membimbing adzra. yayah kak is kah? atau abi yanza? tapi abi yanza sudah punya 3 putri, aku takut yuk dina keberatan. aku lebih yakin pada yayah kak is, tapi untuk ilmu agama bagaimana?. 

pikiran itu menakutiku hingga aku tak bisa memejamkan mataku. Lalu, aku tersadar. aku menginginkan orang yang bisa berada disisiku tanpa tuntutan. Meyakinkanku. Lalu aku berpikir, jika orangnya seperti kamu yang berada disisiku, kamu pasti akan berkata sambil memelukku yang menangis frustasi dengan erat. " sudah, dak apo-apo kito dak usah ado adek sampe umi siap. kalo umi dak siap yo sudah dak apo2, abi jugo dak galak kehilangan umi. Sudah kito be2 dengan adzra be sudah yo. " 

wkwkwkw, aku tau, kalimat itu benar-benar akan kamu ucapkan. Dan setiap kali aku membahas soal anak, kamu akan memelukku dengan gusar. meyakinkanku bahwa kamu sungguh menerimaku meskipun tanpa adanya anak keturunanmu. tapi tentu saja aku yang merasa bersalah kepadamu takkan semudah itu melepas penyesalanku. 

seiringnya waktu, ah entahlah. aku tak bisa menuliskan hal yang akan terjadi kedepan. 

yang jelas. aku ketakutan. terutama jika aku meninggalkan adzra di dunia ini. Kuharap para neneknya mengerti dan memahami aku ingin adzra dibesarkan oleh orangtuanya. Bukan nenek-kakeknya. aku sungguh TAK INGIN. TAK SUKA. TAK MAU. jika adzra dibesarkan kakek-neneknya. aku ingin dia dibesarkan oleh orangtuanya, dan aku memilih yayah kak is untuk membesarkannya.

Sebenarnya, Aku sungguh tak ingin merasa tertekan dengan semua pikiran yang rumit ini. 

ku harap aku panjang umur, sehat lahir dan batin, berkemampuan, berkecukupan dan berkekuatan sehingga aku bisa merawat dan menemani alfatih el adzra dalam keadaan sehat walafiat hingga ia memiliki anak istri. aaamiin

Jumat, 10 Maret 2023

jujur

 Setiapkali, aku merasa sesak. 

aku kesulitan mencari tempat, bahkan untuk sekedar mengetik di atas laptop. 

menjadi dewasa ternyata amat melelahkan. Mengatur waktu menghadapi tuntutan hidup membuat pinggangku terasa sangat lemah. Aku mengetik ini sambil berderai airmata. 

aku lelah, tapi tak ada tempat yang bisa memelukku. tak ada elusan yang menenangkanku. 

sempat terpikir untukku mencari sandaran, nadiku memaksa pikiranku untukku berteriak, " aku lelah, aku ingin bergantung pada seseorang, aku ingin menangis dalam pelukan seseorang dan menggantungkan hidupku disana. aku tau, aku tidak mungkin bisa menghindari tekanan hidup, aku pasti bangkit lagi setelah menangis dan berteriak lalu mengulangi perilaku ini lagi, tapi setidaknya aku tau aku tidak sendiri". 

pikiran lain menyambung. " aku ingin mencari pasangan lagi, tapi aku belum sanggup untuk menjalani tugas sebagai seorang istri, dan itu terasa sangat membebaniku. " 

hingga hanya tetesan air mata yang bisa ku ungkapkan saat ini. 

aku ingin ada seseorang yang memahamiku. memberiku terapi pelukan. 

tapi aku tak menemukannya saat ini. 

aku tak bisa mengatakan isi hati dan perasaanku. 

aku hanya bisa menangis dan menikmati setiap bulir mataku yang menetes dipipi. menghayati peranku sebagai wanita yang lelah dan lemah. 

aku mencari pelampiasan, menyalurkan kemarahan dan kesedihan. aku menyalahkan mereka yang tidak mengirimkanku foto peristirahatan abi adzra. aku berdalih, aku merindukan dia dan mereka tak pernah bisa membalas keinginanku, padahal hanya sekedar foto. 

aku tak bisa meraba saat ini aku benar-benar marah terhadap mereka, atau karena aku lemah tak berdaya tanpa anak mereka. aku lelah dengan keinginanku, ketakutan akan masa depan, ketakutan kurangnya materi untuk mengggapai harapan anakku. 

aaku sepertinya lelah menanggung ini semua sendiri. 

Kamis, 09 Februari 2023

katanya

ini cerita tentang bulan lalu yang belum sempat ku uraikan. 

mengasah kemampuan berpikirku untuk lebih mengenal jiwa. 

mendalami teori yang kupelajari lebih dalam, dan memahami diriku seutuhnya. 


katanya, aku punya luka dalam yang besar. 

ya, aku harus akui itu. Tapi luka ini, tidak membuat perilaku menjadi seperti yang dikatakan. 

Aku menyadari, aku tumbuh menjadi seorang yang cenderung perfeksionis, dengan pikiran yang obsesif dan idealis. Karakterku yang sulit diarahkan, cenderung kaku dengan aturan. Bagaimana semestinya, seharusnya, Baiknya, Bagusnya, aku mempertahankan itu semua dengan kaku. Bahkan cenderung memaksakan. bagian itu juga yang membuat kehidupan terasa Menyesakkan akhir-akhir ini. 

memahami perbedaan antara keinginan dan realita. Ya, memahami suatu masalah. 

aku menuntut diriku untuk..

- menjadi Ibu yang baik dengan pola asuh yang baik. Keinginan untuk menerapkan semua pola asuh, parenting untuk buah hati. ( Aku mau, aku berusaha, tapi waktu tak mengizinkan)

- menjadi anak yang berbakti dan menyenangkan keduaorangtua. Keinginan untuk melayani, memasak, membersihkan rumah, menyenangkan melihat kedua orangtua bersantai. (aku mau, aku berusaha tapi aku lelah. aku tak bisa lagi bekerja dan aku lelah menemani buah hati jika aku melayani)

- menjadi profesi yang profesional. keinginan untuk menyembuhkan pasien, menyenangkan dan memuaskan hati klien (aku mau, aku berusaha tapi aku tak bisa mengatur waktu karena prioritasku masih buah hatiku. dan aku selalu merasa ilmuku belum cukup., Padahal aku sendiri menyadari jika aku lebih berkualitas dari beberapa profesi yang kutemui, dan aku dengan bodohnya memaksakan hal-hal yang memang tidak dapat ku ubah)

- menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. keinginan untuk memuaskan semua keinginan pegawai, agar mereka dapat hak yang sesuai, menjalani pekerjaan yang menyenangkan dengan upah yang setara. (aku berusaha, tapi aku mulai menyadari bahwa aku tidak bisa memuaskan keinginan semua orang. bahkan aku mulai menganggap beberapa dari mereka serakah. aku tidak bisa menanamkan dihati mereka untuk mencintai pekerjaan mereka dan kebersyukuran atas pekerjaan ini.. aku harus menyadari jika mereka memang manusia unik yang harus kuhadapi.)

- menjadi diriku yang sesungguhnya. keinginan untuk bersantai tanpa terbebani, menarik nafas dengan bahagia tanpa adanya rasa lelah. aku memaksakan diriku untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat, minuman yang sehat, olahraga, makan yang sehat, tidur yang cukup, istirahat dan menyenangkan hati. (pada kenyataannya, aku bahkan menghabiskan waktu sebulan untuk 1 drakor, hmmmm ) 

dan beberapahal lainnya

pola pikir ini yang melelahkan bagiku. 

aku jengah dengan pikiran dan rutinitas yang menggangguku.

namun aku tau, aku tak sendirian mengalami ini.... 

Next, sepertinya targetku ikut pelatihan Mindfulness >,<


Allah maha Baik

pagi ini, aku sesak.
kemudian aku menyadari diri ini. 
hal yang membuatku sesak. 

aku selalu ingin mengerjakan banyak hal sekaligus.
menyelesaikan semuanya secara sekaligus
menuntut otakku untuk bekerja lebih keras dibawah tekanan.
lalu, sarafku tertekan dan menekan.
menjadikan kepalaku terasa berputar. Bahuku terasa berat. dan dadaku berdetak dengan sangat kencang. Disertai wajah yang terasa sangat lelah. 

hari ini, 
aku memikirkan laporan yang semakin bertambah. pelatihan esok hari, konseling di hari berikutnya, dan rapat di hari berikutnya. aku menyadari, hanya dengan memikirkan rutinitas kerja membuatku merasa tertekan dan lelah. 
kemudian aku berpikir, seandainya aku menjadi seorang pegawai, atau semakin banyaknya rutinitas yang dilimpahkan kepadaku sesuai keinginanku, mungkin aku akan semakin meledak. 
aku tau, semua ini akan terlewati satu persatu. tapi keinginanku untuk melewatinya dengan sebaik mungkin itu membuatku terasa tertekan. 

aku berpikir, "aku harus bisa" "aku harus mendapat pelajaran" "aku harus menguasai keterampilan" "aku harus profesional" "aku harus memberikan yang terbaik untuk mereka". 
pikiran-pikiran inilah yang membuatku menjadi lebih sesak dan tertekan. 
dan aku merenung, seandainya Allah berikan sesuai keinginanku, akan jadi apa aku saat ini...

Allah berikan aku kebutuhanku, bukan keinginanku. 
mungkin terasa sesak, tapi keinginanku mungkin akan jauh lebih menyesakkan.
dan Allah sayang padaku, sehingga Ia berikan rasa sesak yang masih mampu untuk ku tahan.
lagi, aku percaya... Tuhanku tidak akan memberi beban yang tidak mampu untuk kupikul. 
pagi ini, aku sesak, 
tapi aku tersenyum, dengan menyadari betapa serakahnya aku. 

Jumat, 13 Januari 2023

sesak

 2 minggu sudah

aku terhanyut dalam perasaanku sendiri. Aku masih mengeja akar dari masalahku. Lelah yang tiada habisnya, resah berkepanjangan, semangat yang memudar hingga tidur yang tak lagi menjadi obat. 

aku sadar ada yang salah dari diriku. Ada emosi dan pikiran yang aku abaikan. Aku Menyalahkan semua keadaan. Aku merasa tidak berdaya tanpa adanya abi Adzra. 

aku menyalahkan kepergiannya karena ketidakberdayaanku. Aku berangan-angan memiliki pasangan baru, tapi mereka tak mengerti diriku. aku takut. Aku berharap pada seseorang yang aku tau tak sepaham denganku. Bukan salahnya. Ini perasaanku yang seperti merindukan manisnya madu. Merindukan seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar. Aku sedikit berharap padanya, meskipun aku tau tidak mungkin dia mengertikanku. bukan salahnya, karena aku yang memunafikkan diriku di hadapan oranglain. 

aku tak mampu menunjukkan diriku. Aku menunjukkan kebaikanku, menyembunyikan keburukanku. Sungguh, satu-satunya orang yang sedari dulu kutunjukkan kurangku tanpa ku peduli ditinggalkan satu-satunya adalah abi adzra. 

dan saat ini, aku berpikir untuk menunjukkan kelemahan, keburukanku, kekuranganku, tapi aku tak menemukan orang yang tepat

dan saat ini aku sesak