dear adikku.
aku hanya ingin kamu tahu..
aku sangat menyayangimu..
aku tetap seorang kakak yang tidak ingin siapapun melukaimu
aku tetap seorang kakak yang ingin melihatmu bahagia
dear adikku..
doaku untukmu, entah kapan akan dapat dipahami olehmu
aku mungkin yang terlalu kuat, atau bahkan terlalu lemah di hadapanmu..
semuanya menjadi abu-abu..
semuanya menjadi sendu
ketika kamu tak bisa berbicara pelan untukku
tahukah kamu,
betapa sakitnya aku ketika kamu membentakku?
tahukah kamu,
kecewanya aku ketika aku ingin ada seseorang yang memahamiku, tapi kamu berada di posisi yang bersebrangan denganku?
tahukah kamu
betapa hinanya aku, ketika kamu menghardikku di depan semua orang bahkan suamiku,
tahukah kamu
betapa malunya aku ketika kamu bahkan tak bisa bercanda denganku
tahukah kamu
betapa marahnya aku, ketika kamu tak bisa sopan dengan suamiku
dear adikku
katakanlah kesalahanku
hingga kamu tak bisa melihatku sebagai sosok kakakmu
dear adikku
apakah kamu tahu, rasa marah, kecewa, dan sedih ini telah menjadi satu hingga aku ingin memutuskan berhenti mengenalmu. aku ingin berlari dari hadapanmu, agar kamu lebih mengerti arti hadirku. agar kamu mengerti arti sebuah keluarga. arti sebuah kemandirian.
tapi aku tak sanggup, karena aku tahu ini akan menyakitkan untuk ayah dan ibu. menyaksikan anak-anaknya saling menjauh...menyaksikan anaknya pisah dan bersebrangan, tentu sangat menyakitkan untuk orangtua manapun. sementara aku disini, di usiaku 25 tahun ini.. aku berhenti, aku menyerah untuk memahamimu adikku... aku terlalu lelah dengan semua ketidaksopananmu terhadapku..
katakan adikku, apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku ubah terhadapmu?
apakah aku pernah memukulmu adikku?
atau apakah aku selalu menyakitimu?
apakah aku selalu membentakmu?
katakan adikku
apakah yang kamu mau, aku tak lagi mempedulikanmu?
tahukah engkau adikku, rasa maluku di hadapan suamiku...
suamiku bahkan mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar. Tapi bagaimanapun, seorang suami takkan membiarkan istrinya dihina, dibentak, bahkan oleh adikknya sendiri.
tak malukah engkau terhadap suamiku, adikku?
sampai kapan engkau tunjukkan ketidaksopananmu terhadapku
mungkin, terlalu banyak budi pekerti
yang tak kau pahami sedari kecil
dear adikku, ketika kau membaca ini
hatiku telah hancur olehmu
maafkan aku
jika aku tak bisa bertahan denganmu
salam
kakakmu
Yogyakarta-2019
hanya insan biasa istri dari Ozi Agustra Ummi dari Alfatih El Adzra hanya ingin berbagi rasa, untuk lebih kuat di dunia ini.... menemani adzra hingga masanya nanti diary manusia kosong berjejak
Senin, 04 Februari 2019
SAUDARI
dear sayang,
sesak rasanya hati ini..
begitu menggumpal hingga mampu membekukan darah di setiap helan nafas ini. Aku nestapa sekarang. Kemana aku akan berlari? kemana aku akan mencari? kemana aku dapat menangis. Aku terhenti di sudut kota ini. terlalu resah hati ini. terlalu sesak. diamku bagaikan kepingan darah yang tersumbat di peredaran. menyakitkan.
apa salah dan dosaku sebagai seorang kakak? apakah aku yang tak bisa sempurna memahami arti sebuah kakak. apakah aku yang terlalu berdosa untuk dirinya?
ingin rasanya berlari. ingin rasanya mengakhiri semua ini. aku yang tak bisa, tak becus menjadi kakak yang baik, atau dia yang terlalu mengharap aku menjadi bidadari?
aku tak ubahnya seonggok sampah di hadapannya. pandangan mata dan suara yang mengiris jiwaku hingga terlalu dalam.
berdosakah aku jika aku ingin berlari?
aku yang pernah menghirup rahim yang sama dengannya, dan sekarang
aku tak sanggup menghirup nafas dari ruangan yang sama..
salahkah jika aku hanya meminta sebuah penghormatan darinya?
apakah dimatanya tak pernah ada sosok aku sebagai kakaknya?
apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku pahami?
ini semua rasanya terlalu berlebihan
jiwaku serasa mati
namun untuk berbicara semua ini, aku merasa tak berani.
takut, pandangan kecewa dan terlukanya sayap bidadariku.
mereka terlalu lelah berkorban. bagaimana aku akan menceritakan kepada mereka, bahwa anak mereka tak bisa bersama?
bagaimana aku dapat mengungkapkan, bahwa anak mereka tak bisa saling menjaga?
menyaksikan mereka akan menangis
merasakan sesak dada mereka
aah, tanpa aku ceritakan.. aku sudah tau apa yang akan mereka rasakan
aku lelah
aku kurang apa
aku harus bagaimana
aku terlalu lemah olehnya
sampai kapan aku harus berada di titik ini
dapatkah dia mengerti, bagaimana hati ini
dapatkah dia memahami bagaimana posisi ini
dapatkan dia sedikit saja bersikap sopan dan santun pada diri ini
dapatkah dia rasakan artu dari saudari
Yogyakarta
04-02-2019
sesak rasanya hati ini..
begitu menggumpal hingga mampu membekukan darah di setiap helan nafas ini. Aku nestapa sekarang. Kemana aku akan berlari? kemana aku akan mencari? kemana aku dapat menangis. Aku terhenti di sudut kota ini. terlalu resah hati ini. terlalu sesak. diamku bagaikan kepingan darah yang tersumbat di peredaran. menyakitkan.
apa salah dan dosaku sebagai seorang kakak? apakah aku yang tak bisa sempurna memahami arti sebuah kakak. apakah aku yang terlalu berdosa untuk dirinya?
ingin rasanya berlari. ingin rasanya mengakhiri semua ini. aku yang tak bisa, tak becus menjadi kakak yang baik, atau dia yang terlalu mengharap aku menjadi bidadari?
aku tak ubahnya seonggok sampah di hadapannya. pandangan mata dan suara yang mengiris jiwaku hingga terlalu dalam.
berdosakah aku jika aku ingin berlari?
aku yang pernah menghirup rahim yang sama dengannya, dan sekarang
aku tak sanggup menghirup nafas dari ruangan yang sama..
salahkah jika aku hanya meminta sebuah penghormatan darinya?
apakah dimatanya tak pernah ada sosok aku sebagai kakaknya?
apa yang harus aku lakukan?
apa yang harus aku pahami?
ini semua rasanya terlalu berlebihan
jiwaku serasa mati
namun untuk berbicara semua ini, aku merasa tak berani.
takut, pandangan kecewa dan terlukanya sayap bidadariku.
mereka terlalu lelah berkorban. bagaimana aku akan menceritakan kepada mereka, bahwa anak mereka tak bisa bersama?
bagaimana aku dapat mengungkapkan, bahwa anak mereka tak bisa saling menjaga?
menyaksikan mereka akan menangis
merasakan sesak dada mereka
aah, tanpa aku ceritakan.. aku sudah tau apa yang akan mereka rasakan
aku lelah
aku kurang apa
aku harus bagaimana
aku terlalu lemah olehnya
sampai kapan aku harus berada di titik ini
dapatkah dia mengerti, bagaimana hati ini
dapatkah dia memahami bagaimana posisi ini
dapatkan dia sedikit saja bersikap sopan dan santun pada diri ini
dapatkah dia rasakan artu dari saudari
Yogyakarta
04-02-2019
Langganan:
Komentar (Atom)