Aku.
Disini.
Pedihnya.
Melanjutkan hidup tanpamu.
Am alone.
hanya insan biasa istri dari Ozi Agustra Ummi dari Alfatih El Adzra hanya ingin berbagi rasa, untuk lebih kuat di dunia ini.... menemani adzra hingga masanya nanti diary manusia kosong berjejak
Aku terluka..
Aku tersakiti..
Dari harapan yang pernah diberi.
Dari kata mereka yang sungguh menggores luka tak terperih.
Aku.
Si manusia tak tahu diri.
Hanya memberatkan tak pernah henti.
Aku.
Yang katanya terlalu tinggi
Yang harusnya berpikir sendiri.
Aku sungguh luka disini
Aku tak pernah meminta seperti ini
Aku tak ingin mengiba untuk semua ini.
Tapi kenapa seperti aku yang tak bersyukur atas semua ini.
Pikiranku tak pernah seperti itu.
Tapi mereka mengubah pikiran mereka seakan pikiranku seperti itu.
Bahkan langkah dan janji yang kutekadkan dalam hati. Sekarang bagiku bukan lagi harapan, tapi seperti sebuah hutang yg bahkan harus kubawa sampai mati.
Umi rindu bi...
Rindu abi, rindu cinta dan pelukan yang selalu ada dan menenangkan...
Sekianlama, curahan hati ini terpendam tanpa sempat umi untaikan, semakin menyesakkan di setiap detik.
Merindukan betapa kokohnya pelukanmu.. merindukan sejuknya tawamu... merindukan tembang kebahagiaan bersamamu bi.
Lelah tanpa hadirmu.
Lelah tanpa pelukanmu.
Umi sakit, dan semakin sakit tanpa hadirmu bi.
Mengingat sosokmu yang selalu siap siaga di saat jiwa raga ini lemah dan lemas.
Mengingatmu yang penuh kasih dan sabar menemani dikala semua terasa hambar.
Umi rindu bi.
Dada ini sesak dan semakin terasa menyesakkan.
Ingin bertemu.
Ingin menangis di pelukanmu.
Ingin bercerita betapa banyaknya, betapa sempitnya hati ini.
Sungguh. Terlalu rindu bi.
Akhirnya aku bisa menulis lagi.
Semalam... kulihat status adikmu bi. Dia bilang merindukanmu karena semenjak kepergianmu dia banyak menanggung beban sendirian🥺. Aku turut berduka untuk itu.
Apakah kamu tau pandangan
Ntah dimana akal sehat mereka yang mengatakan itu semua. Hanya karena aku tersenyum depan mereka. Hanya karena aku jarang menulis status sedih merindukanmu, menceritakan bebanku di media sosial, dengan mudahnya mereka menyimpulkan, mereka bilang aku tak merindukanmu, tak menanggung beban sebanyak keluargamu. Perih.
Ketika mereka bilang, suami bisa di cari lagi. Anak tak dapat diganti. Ingin ku teriakkan kepada mereka bi. Kalau suami dapat di cari, maka anak dapat dibuat lagi.
Hanya kamu yg tau, bagaimana aku merindukanmu dan menangisi hidup ini. Aku tak bisa untuk membiarkan oranglain melihatku terpuruk. Melihatku menangis tersedu. Aku tak ingin menangis seperti itu. Mereka takkan bisa berbuat apapun untuk airmata ini bi. Aku lebih memilih mengeluarkan airmata dipelukanmu. Seperti sebelumnya. Hingga saat ini, aku hanya bisa menangis dalam kegelapan malam.
Aku tak tau beban seperti apa yang keluargamu tanggung. Aku juga tau mereka sakit karena kehilanganmu. Bukan salah mereka jika mereka dan orang2 disekitar bilang sedih karena merindukanmu, atau beban mereka bertambah sejak kehilanganmu.
Hanya saja. Kupikir tak seharusnya mereka bilang beban mereka bertambah semenjak kehilanganmu. Kupikir yang mereka rasakan hanya 50% dari kehilanganmu.
Hampir 7 tahun bersamamu. Aku mengerti bagaimana engkau menghabiskan waktumu untuk keluargamu. Kapan mereka menelpon, kapan mereka sms, kapan mereka datang. Aku mengerti. Bahkan ada banyak cerita yang kamu tak tahu dan aku lebih tahu. Kita bahkan mengerti, masalah keluarga, masalah lingkungan, adikmu punya pacar, punya teman yang dulu selalu menjadi tempat berbagi. Kedua orangtuamu bercerita banyak melalui telepon. Kamu hanya tersenyum dan mendengarkan, tanpa melakukan apapun.
Sementara engkau pergi. Apa yang membuat perbedaan besar dalam masalah keluarga bi? . Apa yang membuat mereka menangis penuh melebihi aku bi. Satu tahun sekali engkau pulang. Seminggu sekali orangtuamu menelpon. Sebulan sekali adikmu datang. Hanya 35% yang mereka bagikan dan ceritakan padamu tentang hidup.
Sementara engkau pergi. Aku yang 1x24 jam bersamamu. Setiap menit ditolongmu. Setiap jam selalu belasan chatmu. Setiap sore menunggumu pulang, setiap malam tidur di pelukanmu. Kamu ada di stiap hidupku setiap waktu. Tak ada celah. 100% kamu yang ada. 100% pula aku ada untukmu. Kita saling berbagi semuanya.
Kenapa otak mereka masih tak bisa merasakan siapa yang paling kehilangan. Setiap orang ada proporsinya untuk kehilangan. Siapa yang paling kehilangan, kenapa seolah menjadi perlombaan. Tak perlu kuceritakan bagaimana hidupku dan hidupmu. Tak ingin kuceritakan, tak akan bi. Walau sejujurnya periiih hati ini setiap itu terjadi.
Mereka bilang suami bisa dicari baru. Kita lihat bi, adikmu ketika menikah dan memiliki anak, apakah masih susah hidup untuk merindukanmu? Apakah hatinya berat menjalani kehidupan?
Orangtuamu. Aku mengerti anak adalah harapan bi. Tapi, masih ada adikmu. Masih ada anakmu, anak adikmu. Masih memiliki cinta satu sama lain, masih hidup bersama di dalam satu atap. Masih bisa saling bercinta, saling memeluk, saling berpetualang bersama. Takkan ada yang menjadi penggantimu diantara mereka, sehingga takkan ada perasaan bersalah membandingkan antar manusia. Antar anak. Mereka masih bisa saling menyemangati tanpa harus mencari pengganti. Mereka bisa hidup mandiri berdua tanpa kekurangan jiwa dan raga.
Aku bi. Aku istrimu. Tak ada lagi yang memelukku bi, tak ada teman yang bercinta denganku, tempat menumpahkan resah yang paling dalam. Tak ada yang membantuku disaat waktu. Tak ada yg memperhatikanku. Jiwa ragaku kekurangan bi. Hilang setengahnya. Anakmu takkan bisa menjadi penggantimu bi. Anakmu takkan bisa selalu menemaniku. Dia akan pergi nanti, ntah menuntut ilmu ataupun menikah. Mencari penggantimu? Aku akan menemukan tempat untuk bercinta, melengkapi jiwa dan ragaku. Iya. Kalaupun itu terjadi, tetap saja ada jiwa yang kosong untukmu. Merindukanmu, bahkan mungkin akan ada banyak batinku secara tak sengaja membandingkanmu dengan suami baruku. Akan ada luka padanya, dan pasti terluka dengan perasaanku yang tak lagi utuh. Bayangmu akan mengikutiku meskipun aku berusaha untuk menjalani hidup bersama yang baru. Akan ada siksaan dihatiku ketika mengingatmu. Siksaan ketika melihat orangtuamu, merasa bersalah, merasa tak nyaman, merasa bingung. Bagaimana harus bersikap pada orangtuamu, pada orang baru, semuanya ini akan mengikuti hingga akhir hayatku. Perasaanmu padaku akan selalu menjadi yang teristimewa di hatiku.
Sulit bagiku untuk benar-benar mengingatmu sebagai kenangan terindah. Kamu adalah kerinduan yang tak akan pernah habis bi. Sekalipun terganti, kamu takkan pernah tergantikan.
Masihkah mereka bilang bebanku lebih ringan bi? Ini semua yang dirasakan para janda bi. Sekalipun mereka menikah. Suami terdahulu mereka selalu menjadi yang teristimewa, selalu menjadi harapan mereka di keterpurukan. Selalu dibayangi.
Masihkah mereka bilang janda lebih mudah dibandingkan keluarga suami?
Mereka sungguh tak punya otak dan hati.
Sepagi ini...
Aku merindumu lagi.
Mengenang saat pertama kita kepagaralam untuk unduh mantu. Hari pertama aku menginjakkan kaki dirumahmu bi. Ritual adat pernikahan hingga ke jalanjalan pertama kita berdua mengelilingi kota kelahiranmu.
Saat kamu tersenyum sambil mengatakan 'umi istriku, cantik nian cak ini' terus terbayang dan menggema pagi ini. Saat kamu posesif dan ingin selalu memelukku, terasa baru kemarin terjadi. Hingga semua kenangan indah itu membuatku menghela nafas. Kenapa tuhan ambil secepat ini?
Aku masih belum puas untuk menghabiskan waktu bersamamu. Masih banyak jalan dan cerita yang ingin kulalui sambil menggandeng tanganmu. Sekarang aku sendiri menyusuri jalan, menggendong buah hati tanpamu menggandengku.
Bi. Aku rindu.
Ada banyak cerita yg menyesakkan pagi ini tentang rindu. Tapi semuanya bahkan tak bisa kurangkai dalam satu cerita. Tak perlu ku ceritakan semua, kamu tau kan perasaanku? Aku ingin menangis dipelukanmu.
Apakah ini berarti aku tak ikhlas bi? 🥲
Aku merindukanmu lagi dengan sesak hari ini bi.
Banyak hal sepele, tapi begitu menyesakkan saat umi merindu abi. Harus terima, tapi rasanya tidak adil. Ingin mengakui tidak adil, tapi ini takdir. Tak bisa diganti, tak bisa berubah, tak bisa dipungkiri.
Ingin memaki tuhan, tapi tak berani. Seringkali meminta tuhan memberikan kesempatan lagi, meminta hal yang mustahil🥲. Hanya bisa merindu bi. Dalam diam, dalam senyap, hati ini berharap kamu ada disisi.
Memori tentangmu seakan diulas dengan tarikan nafasku. Tak kuminta, tak kupaksa, tapi berpadu sendirinya. Menyesakkan. Tapi tak bisa kubuang.
Aku sendiri bahkan sulit mendeskripsikan rinduku ini bi. Terlalu menyesakkan dan berat. Sepanjang hari bayangmu disini. Cinta. Aku cinta kamu bi. Aku lemah tanpamu. Lelah. Rindu bi. Sayang, aku sungguh rindu kamu.
Ada jutaan pilu dan cerita yang terendam di dalam hati ini bi. Hingga rasanya menyesakkan hingga ketulang.
Umi pikir, umi akan terbiasa dengan sesaknya gumpalan rindu ini. Terbiasa dengan sakitnya telinga dan lelahnya mata. Terbiasa dengan jam yang terus berputar. Tapi nyatanya tidak.
Sehari, ada 20 jam yang umi habiskan untuk merindu dan mengenangmu. Bercerita denganmu melalui hati ini, tanpa sempat menuangkannya dalam goresan.
Pilu.
Bersemayam kuat.
Umi pikir umi bisa mencari sosok yang mau berbagi, tapi semakin umi melangkah untuk mencari sosok itu, umi semakin terperosok dalam bayangmu. Mencari sosok pengganti yang wajahnya mirip denganmu. Menginginkan pengganti yg sifatnya sama sepertimu. Berharap pengganti itu memiliki rasa cinta dan syang yg bahkan lebih besar darimu. Dan pada akhirnya, umi tak bisa melepaskan dirimu bi. Melepaskan cintamu yang telah mengakar di relung hidup ini.
Umi rindu Abi.