bi, satu bulan ini rasanya menyesakkan.
mungkin, aku lelah tertawa diantara banyak keramaian. aku merindukan keheningan. melepas semua penat yang sedari 2 bulan terakhir menghampiri.
adek dea menikah bi. adek menikah dengan seorang pria yang memiliki kemiripan 50% dengan dirimu. Tentunya masih ganteng dirimu bi. heheheh, abi lebih tampan, lebih menarik, dan yah sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkan ketampanan abi. hehehe.
masalahnya bukan terletak dari kemiripan pria itu dengan abi. Masalahnya, ada pada diri ini yang masih saja berduka. aku merasa tak pantas untuk bahagia. sedari abi pergi, diri ini merasakan patah hati yang terhebat. merasa bingung, lelah harus bersikap pada semua orang. diri ini merasa sedih karena hanya seorang diri. semuanya sudah tergambarkan dan bahkan diri ini sudah mencoba terapi selama 2 bulan terakhir untuk menghadapi masa ini.
sedari abi pergi, diri ini menguatkan diri untuk menjalani kenyataan ketika adek dea menikah. tergambar dengan jelas. semuanya berfoto, bersama pasangan. diri ini berusaha tegar bersama buah hati. semuanya bernyanyi berjoget, diri ini ingin melarikan diri. beraat sekali rasanya untuk tertawa berjoget bersama. tapi diri ini selalu memaksa untuk bersikap seolah semuanya baik-baik saja. bahkan perasaan sedih dari orangtua abi tergambar jelas, dan semakin menambah perasaan bahwa diri ini tak berhak bahagia. ya, kesalahan dari pikiran diri ini. bahwa kehilangan yang mereka rasakan adalah tanggungjawab yang harus kupikul sampai akhir.
dan, adek dea menikah di hari dan waktu yang sama dengan kita. 14.07.2023 , 15072023, 16072023. diri ini berharap, pernikahan mereka bahagia, langgeng, menua sampai tua bersama. cukuplah diri ini yang merasakan pedihnya belahan hati. jangan sampai keluarga yang lain mengalami perpisahan dini seperti diri ini.
diri ini berharap, ada yang memuji kecantikan diri yang bermakeup, sama seperti abi memuji umi dihari pertama kita berias. yah, kenangan indah disaat pernikahan kita melintas tanpa bisa di hentikan. diri ini memaksakan diri tertawa, berbahagia, tersenyum. tapi kekosongan hati ini tak bisa memungkiri. sedari hari rabu hingga minggu. selalu saat jam 2 malam, diri ini menangisi kesendirian kehampaan tanpa abi.
minggu acara resepsi, diri ini tetap ikut berjoget dan bernyanyi untuk meramaikan pernikahan adek. abi tau, lelehan air mata jatuh tanpa bisa ditahan, dan luar biasa sekali, diri ini tertawa sambil terus menggerakkan badan berjoget.
setelah semua itu, diri yang ingin diakui ini. sibuk menemani keluarga palembang dan keluarga pagaralam jalan-jalan. memberi adek dan mamak untuk bantu pernikahan adek, dan entahlah sukar untuk dikatakan berapa banyak materi yang habis. hingga akhirnya, diri ini ditengah sakit memaksakan untuk menerima pekerjaan. tanpa henti, hampir satu bulan ini diri ini keluar kota, mengais rezeki untuk bisa mengabulkan keinginan-keinginan diri. ntahlah. sungguh diri ini memaksakan diri hingga rasanya sudah di akhir batas.
september nanti akan pergi ke pagaralam. sungguh, otak ini sulit berpikir, kemana lagi akan mencari uang. aah sudahlah, bahkan diri ini tak mampu lagi mengetik pekerjaan yang harus dijalani selama sminggu ini. sungguh sudah amat sangat banyak dan menumpuk.
sampai akhrinya kemarin diperjalanan pulang bekerja. diri ini berhenti dan menangis tanpa bisa dihentikan. lelah menjadi orangtua tunggal, lelah bekerja, lelah harus mengikuti ritme kehidupan. lelah dengan diri ini yang ingin selalu bersikap baik pada semua orang. lelah, lelah, lelah dan lelah.