Laman

clock

Kamis, 09 Februari 2023

katanya

ini cerita tentang bulan lalu yang belum sempat ku uraikan. 

mengasah kemampuan berpikirku untuk lebih mengenal jiwa. 

mendalami teori yang kupelajari lebih dalam, dan memahami diriku seutuhnya. 


katanya, aku punya luka dalam yang besar. 

ya, aku harus akui itu. Tapi luka ini, tidak membuat perilaku menjadi seperti yang dikatakan. 

Aku menyadari, aku tumbuh menjadi seorang yang cenderung perfeksionis, dengan pikiran yang obsesif dan idealis. Karakterku yang sulit diarahkan, cenderung kaku dengan aturan. Bagaimana semestinya, seharusnya, Baiknya, Bagusnya, aku mempertahankan itu semua dengan kaku. Bahkan cenderung memaksakan. bagian itu juga yang membuat kehidupan terasa Menyesakkan akhir-akhir ini. 

memahami perbedaan antara keinginan dan realita. Ya, memahami suatu masalah. 

aku menuntut diriku untuk..

- menjadi Ibu yang baik dengan pola asuh yang baik. Keinginan untuk menerapkan semua pola asuh, parenting untuk buah hati. ( Aku mau, aku berusaha, tapi waktu tak mengizinkan)

- menjadi anak yang berbakti dan menyenangkan keduaorangtua. Keinginan untuk melayani, memasak, membersihkan rumah, menyenangkan melihat kedua orangtua bersantai. (aku mau, aku berusaha tapi aku lelah. aku tak bisa lagi bekerja dan aku lelah menemani buah hati jika aku melayani)

- menjadi profesi yang profesional. keinginan untuk menyembuhkan pasien, menyenangkan dan memuaskan hati klien (aku mau, aku berusaha tapi aku tak bisa mengatur waktu karena prioritasku masih buah hatiku. dan aku selalu merasa ilmuku belum cukup., Padahal aku sendiri menyadari jika aku lebih berkualitas dari beberapa profesi yang kutemui, dan aku dengan bodohnya memaksakan hal-hal yang memang tidak dapat ku ubah)

- menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. keinginan untuk memuaskan semua keinginan pegawai, agar mereka dapat hak yang sesuai, menjalani pekerjaan yang menyenangkan dengan upah yang setara. (aku berusaha, tapi aku mulai menyadari bahwa aku tidak bisa memuaskan keinginan semua orang. bahkan aku mulai menganggap beberapa dari mereka serakah. aku tidak bisa menanamkan dihati mereka untuk mencintai pekerjaan mereka dan kebersyukuran atas pekerjaan ini.. aku harus menyadari jika mereka memang manusia unik yang harus kuhadapi.)

- menjadi diriku yang sesungguhnya. keinginan untuk bersantai tanpa terbebani, menarik nafas dengan bahagia tanpa adanya rasa lelah. aku memaksakan diriku untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat, minuman yang sehat, olahraga, makan yang sehat, tidur yang cukup, istirahat dan menyenangkan hati. (pada kenyataannya, aku bahkan menghabiskan waktu sebulan untuk 1 drakor, hmmmm ) 

dan beberapahal lainnya

pola pikir ini yang melelahkan bagiku. 

aku jengah dengan pikiran dan rutinitas yang menggangguku.

namun aku tau, aku tak sendirian mengalami ini.... 

Next, sepertinya targetku ikut pelatihan Mindfulness >,<


Allah maha Baik

pagi ini, aku sesak.
kemudian aku menyadari diri ini. 
hal yang membuatku sesak. 

aku selalu ingin mengerjakan banyak hal sekaligus.
menyelesaikan semuanya secara sekaligus
menuntut otakku untuk bekerja lebih keras dibawah tekanan.
lalu, sarafku tertekan dan menekan.
menjadikan kepalaku terasa berputar. Bahuku terasa berat. dan dadaku berdetak dengan sangat kencang. Disertai wajah yang terasa sangat lelah. 

hari ini, 
aku memikirkan laporan yang semakin bertambah. pelatihan esok hari, konseling di hari berikutnya, dan rapat di hari berikutnya. aku menyadari, hanya dengan memikirkan rutinitas kerja membuatku merasa tertekan dan lelah. 
kemudian aku berpikir, seandainya aku menjadi seorang pegawai, atau semakin banyaknya rutinitas yang dilimpahkan kepadaku sesuai keinginanku, mungkin aku akan semakin meledak. 
aku tau, semua ini akan terlewati satu persatu. tapi keinginanku untuk melewatinya dengan sebaik mungkin itu membuatku terasa tertekan. 

aku berpikir, "aku harus bisa" "aku harus mendapat pelajaran" "aku harus menguasai keterampilan" "aku harus profesional" "aku harus memberikan yang terbaik untuk mereka". 
pikiran-pikiran inilah yang membuatku menjadi lebih sesak dan tertekan. 
dan aku merenung, seandainya Allah berikan sesuai keinginanku, akan jadi apa aku saat ini...

Allah berikan aku kebutuhanku, bukan keinginanku. 
mungkin terasa sesak, tapi keinginanku mungkin akan jauh lebih menyesakkan.
dan Allah sayang padaku, sehingga Ia berikan rasa sesak yang masih mampu untuk ku tahan.
lagi, aku percaya... Tuhanku tidak akan memberi beban yang tidak mampu untuk kupikul. 
pagi ini, aku sesak, 
tapi aku tersenyum, dengan menyadari betapa serakahnya aku.