hari ini,
Dadaku serasa ingin meledak dan pecah.
aku ingin berteriak dan menangis tanpa tau masalah apa yang sebenarnya ingin ku atasi.
ya, aku PMS dan perasaanku lelah.
aku lelah silih berganti dengan perasaan ini, aku lelah untuk sempurna dan mengerjakan semuanya sepenuh hati.
aku abai dengan perasaanku sendiri. hingga akhirnya aku memaksa orang-orang disekitarku untuk memahami.
bola mata kecil itu yang seharusnya bisa lebih aku pahami, tapi aku menjadikannya patuh dengan pemaksaan.
aku takut, takut menjadi orangtua yang memaksakan semua kehendaknya. takut jika yang ia tanamkan dibenaknya tentangku adalah kepatuhan semata untuk sempurna.
aku takut ia menjadi sepertiku.
aku takut menjadi orangtua yang tak bisa memberikannya kasih sayang yang utuh.
aku bertanya-tanya.
bagaimana peranku,
apa aku berhasil menjadi seorang ibu yang penuh kasih?
aku cemas.
aku ingin ia tumbuh berkembang dan berproses dengan penuh kehangatan.
tapi aku, sang dominan. sang otoriter. sang pengatur. sang pemarah. ah, semua itu kulabelkan terhadap diriku sendiri.
aku tau, aku harusnya menyadari tak ada yang sempurna.
aku bukan ibu yang sempurna dan tak akan pernah menjadi ibu yang sempurna untuk anakku.
aku bukan pula anak yang sempurna dan tak akan pernah menjadi anak yang sempurna untuk orangtuaku.
pola asuhku bukan yang sempurna dan tentunya akan tetap memiliki celah.
pola asuh orangtuakupun tentunya memiliki celah lebar.
maka,
anakku pun akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak akan pernah sempurna
pola asukupun akan tumbuh dengan memiliki celah.
aku yang menyadari itu harusnya menerima.
aku yang memahami itu harusnya lebih bisa mengesampingkan egoku.
tapi aku manusia
yang masih memiliki rasa kecewa
terhadap hal yang tak kuinginkan disekitarku.
aku sesak
aku butuh pelukan.
aku merasa gagal menjadi ibu.
aku bingung tujuan hidupku
aku berkutat dengan keinginan-keinginan yang bersyarat.
aku lelah,
dan aku butuh sandaran.
tapi orang akan berkata, aku cengeng.
orang akan memaksaku untuk menikah.
aku tau tak ada solusi.
tapi aku berharap ada manusia hidup yang mendengarkanku,
menerima ceritaku.
memahami porsiku.
selayaknya dia yang dahulu.