hai bi.
begitu banyak kisah yang terlewatkan dan tak bisa umi ceritakan untukmu bi.
begitu banyak kesibukan dan lelah hati yang membuat umi bahkan tak mampu untuk membuka dan mengetik si putih. hingga hari ini, umi mencuri waktu untuk menceritakan sepenggal cerita berapa waktu terakhir ini bi.
Sekarang, hari ini awal 2021 bi. Jumat, hari pertama yang mengawali tahun ini dan umi harap mampu menjadi awal yang baik untuk umi membuka lembaran baru. kebahagiaan yang umi, abi, dan yang kita harapkan di 2020, kandas bi. menyisakan puing-puing luka yang akan selalu berbekas hingga akhir hayat.
2020 menjadi saksi begitu banyak perjalanan umi dan abi dimulai. untuk pertamakalinya setelah hidup di dunia ini selama 25 tahun, umi merasakan rawat inap di rumah sakit.
pertamakalinya merasakan di infus, memakai selang oksigen, cek alergi, hal yang terasa menakutkan dan umi bisa melewatinya demi buah hati kita bi. pertamakalinya kita tidur berdua di ranjang rumah sakit ya bi. pertamakali pula umi merasakan ketakutan yang mendalam saat akan operasi Sc. hehee, bayangkan bi, untuk umi yang suntik aja takut tiba-tiba harus operasi. Kesan ruangan itu masih nyata menakutkan bi. dingin yang menusuk ke tubuh, telanjang dan berasa ditelanjangi bak tak ada arti di hadapan para tenaga kesehatan bi. perasaan sadar yang samar-samar seperti kematian bi. suara tak jelas, orang yang lalu lalang, umi pikir perjalanan umi di dunia berakhir saat itu.
ada banyak kisah yang umi ingin ceritakan tentang perjalanan umi di ruang operasi kemarin, tapi umi pikir akan umi ceritakan di rumah, saat kita sedang mengasuh anak dengan tawa. takdir allah. di perjalanan pulang ke rumah abi sakit.
untuk pertamakalinya, umi melihat abi masuk rumah sakit. pertamakalinya abi pergi ke rumah sakit tanpa bisa umi dampingi. pertamakalinya umi berjumpa dengan abi di rumah sakit dan dengan keadaan yang amat sangat tidak menyenangkan. pertamakalinya melihat, menemani abi dalam keadaan abi koma di ruang icu. allah tak pernah memberikan ujian seperti ini untuk umi. ketika Allah beri, laksana seluruh dunia yang runtuh bi.
hingga saat ini, kali pertama umi merasa sangat kecewa kepada umak bapak dan adek, kepada keluarga umi. pertamakalinya bi, dalam hidup umi harus merelakan kepergian seseorang ke alam kematian, dan tak pernah terbayangkan sosok itu harus abi. Tak pernah umi bayangkan, harus abi. pertamakalinya dalam hidup umi menyaksikan abi terbaring tak berdaya, menyaksikan abi sakaratul maut, menyaksikan ego keluarga abi, menemani abi di ambulans dalam keadaan tak bernyawa, menyaksikan abi di mandikan untuk terakhirkali. Abi tau, itu pertamakalinya umi takut dengan ambulans. Umi takut ambulans datang untuk membawa abi pergi, padahal umi belum puas memandangi wajah terakhir abi. umi serasa gila ketika mendengar ada suara mobil memasuki rumah. Padahal itu suara mobil mengantarkan kursi untuk pelayat bi. bisa abi bayangkan, histerisnya umi kala itu.
pertamakali pula, umi menyaksikan bagaimana prosesi pemasangan kain kafan. pertamakalinya, umi ikut ke mesjid untuk sholat jenazah. pertamakalinya, umi melepas abi pergi dari gerbang depan rumah, dan tak bisa umi sambut lagi. uuh, hancur hati umi bahkan saat menulis ini bi. hancur sehancur-hancurnya.
pertamakalinya, umi hidup hanya dengan bayangan abi. rasanya dunia runtuh, terasa sepi, terasa mati. segala sesuatu seperti akar yang menjerat. pertamakalinya umi menyadari, semua perkataan abi benar tentang hubungan kekeluargaan. pertamakalinya umi merasa bahagia sempat menjadi ratu abi di dunia ini. umi merasa bahagia sempat merasakan kenikmatan cinta itu, merasakan menjadi orang yang sangat istimewa. umi ragu, apakah masih ada sosok yang dapat menjadikan umi ratu.
pertamakalinya, dunia ini terasa hambar bi. pertamakalinya umi melakukan semua hal seorang diri dalam sepi, dalam gelap, dalam tangis. tak ada yang mau menenangkan umi sepertimu bi. perasaan kecewa, perasaan sedih, perasaan bahagia, semua menjadi satu dan menumpuk.
pertamakalinya umi merasa gila dan hilang arah. merasa semua beban dunia di pundak umi. Liza Nopriza telah mati bi. umi yang dulu begitu percaya diri dengan semua yang umi miliki, umi yang merasa mampu melewati berbagai rintangan hidup, umi yang yakin dengan kemampuan yang umi miliki, sekarang mati tak terarah bi. umi merasa terpuruk begitu dalam. pertamakalinya umi merasakan ketidakberdayaan tak berujung ini. meragukan semua prestasi, kemampuan yang pernah umi miliki. melihat betapa tidak berharganya diri ini tanpa umi.
benarlah bi, seorang wanita itu akan kuat dan bersinar karena ada cinta dari pria dibelakangnya. Sosok pria itu hilang bi. hilang. membuat cahaya umi pudar, bahkan padam. tak ada lagi pesona dalam diri umi. tak ada lagi kepercayaan diri, dan kebanggan itu. hanya ada senyum bi. hanya tersisa senyuman, untuk memastikan bahwa umi masih mencoba untuk baik-baik saja.
segala sesuatu yang terjadi, umi harap akan ada keajaiban untuk abi kembali ke sisi umi. suatu kegilaan yang melewati batas kan bi. 2021, umi harap umi dapat menemukan kebahagiaan yang mampu membuat umi percaya diri bi. mampu membuat umi yakin, bahwa umi berharga.
2021, umi harap semua kedukaan ini hilang bi. umi harap duka ini digantikan allah dengan sukacita yang berlipat ganda.
semoga ya bi.